<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1613232504444729082</id><updated>2011-04-21T20:18:45.322-07:00</updated><title type='text'>AL-FAJR</title><subtitle type='html'>mari bergaul dengan Islam secara kaffah</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Achmad Fajar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09208296357391645542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_bIfRFYvumkk/SG-rBdLxhOI/AAAAAAAAABc/6omfbO1oxUY/S220/1_657328070l.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1613232504444729082.post-2950364790585248353</id><published>2008-07-28T17:06:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T17:07:13.782-07:00</updated><title type='text'>Totalitas Ibadah</title><content type='html'>Oleh: Imron Zabidi, MA, M.Phil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risalah utama yang diberikan oleh Allah kepada para Rasul untuk disampaikan kepada umat manusia adalah tauhid kepada Allah dan ibadah kepada-Nya. Allah SWT berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun kepada kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasannya tidak ada Tuhan melainkan Aku maka sembahlah Aku" (QS. Al-Anbiya: 25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid yang diartikulasikan dalam ungkapan Tiada Tuhan selain Allah merupakan landasan akidah bagi ibadah kepada Allah sehingga ibadah dalam implementasinya tidak terkontaminasi dengan berbagai bentuk syirik dan hanya diperuntukkan bagi Allah SWT.&lt;br /&gt;Ibadah juga merupakan salah satu karakteristik orang yang bertaqwa lantaran ibadah inilah yang menjadi tujuan diciptakannya manusia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah" (QS. Al-Dzariyat: 56).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat Alqur'an diatas sekalipun ungkapannya pendek ,akan tetapi mengandung sebuah hakekat yang amat besar penting. Karena kehidupan manusia di muka bumi ini tidak akan menjadi benar dan mapan tanpa memahami hakekat itu dengan benar, baik dalam kehidupan pribadi atau sosial, bahkan dalam kehidupan manusia secara keseluruhan. Hakekat tersebut adalah ibadah kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ibadah diartikan sebagai segala sesuatu yang diridoi Allah swt dalam bentuk ucapan dan perbuatan lahir atau batin. Pengertian ini mencakup shalat, puasa, zakat, haji, menunaikan tugas, berbuat baik kepada orang tua,silaturrahmi, amar ma'ruh nahi munkar, berjuang mempertahankan agama, bersikap baik dengan tetangga, anak yatim, fakir miskin dan amalan-amalan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian diatas bisa difahami bahwa ibadah tidaklah sekadar mencakup salat, puasa dan semisalnya. Tetapi ibadah meliputi totalitas kehidupan manusia, baik sisi ekonomi, sosial, pokitik, budaya dn lainnya. Bahkan lebih dari itu, dalam pandangan Islam, amalan-amalan mubah, seperti makan, minum, tidur, rekreasi dan sebagainya bisa berubah menjadi amal ibadah manakala amalan tersebut dilakukan guna mencari keridoan Allah swt dan tidak dicampurbaurkan dengan kemungkaran. Dengan memasukan segala aspek kehidupan manusia kedalam ibadah, maka seorang muslim bias mempersembahkan segenap hidupnya untuk beribadah kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah sesungguhnya salatku, ibadahmu, hidupku dan matiku semata untuk Allah Dzat Penguasa alam semesta" (QS. Al-An'am: 162).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah, maka predikat ahli ibadah bisa dan harus diraih oleh setiap muslim dari segala profesi dan lapisan dalam masyarakat, oleh rakyat atau pejabat,ilmuan atau ustadz, tua atau muda, pria atau wanitadan si kaya atau si papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak Salah Faham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah faham terhadap konsep ibadah yang komprehensif tersebut, misalnya dengan mengartikan ibadah hanya pada ibadah ritual semata seperti salat dan puasa mengakibatkan kerugian terhadap diri manusia karena ia tidak bisa menjadikan segenap hidupnya untuk beribadah kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, dengan mengartikan ibadah pada ibadah ritual semata, berdampak pada pemisahan kehidupan ekonomi, politik, sosial, budaya dan sisi-sisi lain seorang muslim, jauh dari tuntunan agama. Seakan sisi-sisi tersebut tidak memerlukan tuntunan agama, padahal Islam mengatur segala sisi kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, tidaklah heran manakala kita menyaksikan banyak kasus yang menyedihkan, dimana banyak orang rajin melakukan salat, puasa, haji bahkan lebih dari satu kali serta tekun melakukan salat-salat sunah, akan tetapi manakala ditengok kehidupan sosial, politik dan ekonominya, ia jauh dari tuntunan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berinteraksi dengan tetangga dan kerabat kerja, ia bersikap kasar. Dengan sesama muslim, ia tidak mengikuti jejak para sahabat yang keras terhadap orang kafir dan sayang terhadap sesamanya, tetapi sebaliknya keras terhadap sesama muslim apalagi yang tidak sefaham, tetapi bersikap sayang dan hormat terhadap orang-orang kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mencari rizki, ia seringkali menghalalkan segala cara, ia tak peduli dengan makanan yang dikonsumsinya, apakah diperoleh dengan cara halal atau haram, yang penting baginya adalah empat sehat lima sempurnya. Unsur halal tidak pernah menjadi pertimbangannya. Dalam kehidupan politik, ia tidak memiliki kemauan untuk mengadopsi kepentingan Islam dan kaum muslimin yang merupakan kewajiban setiap muslim dan bahkan menjadikan non muslim sebagai pemimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak lain dari salah faham terhadap konsep ibadah adalah ketidak pedulian terhadap lingkungan. Seorang muslim yang melihat ibadah hanya terfokus pada ibadah ritual semata seringkali tidak memperhatikan dan tidak melihat bahwa umat Islam sekarang ini tengah dalam gempuran budaya, informasi dan ghazwul fikri atau serangan pemikiran dari berbagai penjuru dunia yang berseberangan dengan tuntunan Islam, baik itu lewat media elektronik atau media cetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi seperti ini mengakibatkan banyak diantara kita, anak-anak, kawula muda dan bahkan orang tua yang tidak mengenal tuntunan agamanya dengar benar dan memadai. Banyak diantara kita yang lebih dekat dengan majalah hiburan dari pada Alqur'an, banyak yang lebih mengenal bintang sinetron yang berperilaku bebas dari pada sirah atau sejarah Rasulullah saw dan para sahabatnya sebagai pembawa risalah Islam. Maka tidaklah heran banyak diantara generasi muda dan tua terpuruk kedalam kubangan dekadensi moral dalam berbagai bentuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjudian, narkoba dan prostitusi merajalela dimana-mana, seakan sudah menjadi gaya hidup yang harus diterima secara wajar. Sementara seks bebas dan aborsi dilakukan dengan enteng dan gampang. Ribuan bayi yang diaborsi selama setahun terahir ini benar-benar membuat bulu roma kita merinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, tak sedikit diantara umat Islam yang melatih putra-putrinya masuk ke dalam perangkap budaya negatif dengan membiarkan anak-anak mereka berpakaian ketat dan terbuka atau mendorong anaknya jadi anak gaul dalam pengertiannya yang negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan terkadang ada orang tua yang tidak senang kepada anaknya yang mengaplikasikan ajaran Islam secara baik dan benar. Prilaku yang demikian merupakan salah satu sebab yang menjadikan umat Islam dalam posisi lemah dan tidak berbobot dalam panggung masyarakat dunia. Sejarah membuktikan, bahwa umat Islam akan jaya dan maju manakala mereka menjalankan tuntunan agamanya dengan benar dan komprehnsif. Sebaliknya, umat Islam akan mundur dan hancur apabila mereka jauh dari ajaran agamanya. Namun demikian banyak umat Islam yang bersikap masa bodoh dengan segala kelemahan dan keterpurukan yang menimpa umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merekapun seringkali bersikap masa bodoh terhadap kemungkaran yang merajalela lewat berbagai sarana yang main hari makin canggih. Mereka cukup puas dengan salat dan puasa. Seakan ibadah hanya boleh hidup dalam mesjid saja. Sedangkan di luar mesjid, dipasar, di kantor,di media massa, ibaadah tidak memiliki tempat baginya, bahkan terkadang mereka menjadi pendukung kemungkaran. Apabila kondisi seperti ini menguasai keadaan, maka kita menunggu apa yang telah diprediksikan oleh Rasulullah saw dalam salah satu haditsnya seperti yang diriwayatkan oleh Zainab ra, isteri Rasulullah saw, bahwa pada suatu hari Rasulullah saw datang kepadanya dengan wajah sedih dan bertutur:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Celaka bagi orang Arab karena kejahatan yang dilakukannya. Nanti, pada suatu saat mereka pasti akan mengalami kehancuran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Zainab bertanya: Apakah semua akan dihancurkan, sedangkan diantara mereka ada yang tetap saleh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw menjawab: ya, apabila kefasikan dan kejahatan mereka sudah merata dan orang Islam sudah tidak lagi melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah arus globalisasi yang begitu dahsyat yang membawa nilai-nilai positif dan negatif, upaya pemeliharaan dan peningkatan komitmen seorang muslim terhadap ibadah kepada Allah swt sebagai tugas utamanya bukanlah hal yang mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memerlukan kesabaran yang prima dan lingkungan yang kondusif yang mendukungnya, sehingga ia bisa tetap eksis dan hidup dengan keimanannya yang aktif dan dinamis yang buah positifnya memancar dalam kehidupan keseharian, dan ia tetap berpegang teguh bahkan bangga dalam mengikuti ajaran dan sunnah Rasulullah saw sehingga ia berhak memperoleh predikat orang yang berbahagia dalam pandangan Rasulullah saw sebagaimana disabdakan oleh beliau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku dan berbahagialah, berbahagialah dan berbahagialah orang yang tidak melihatku tetapi beriman kepadaku."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1613232504444729082-2950364790585248353?l=alfajr-pmtt.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/feeds/2950364790585248353/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1613232504444729082&amp;postID=2950364790585248353' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default/2950364790585248353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default/2950364790585248353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/2008/07/totalitas-ibadah.html' title='Totalitas Ibadah'/><author><name>Achmad Fajar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09208296357391645542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_bIfRFYvumkk/SG-rBdLxhOI/AAAAAAAAABc/6omfbO1oxUY/S220/1_657328070l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1613232504444729082.post-5812706791827235396</id><published>2008-07-28T17:04:00.001-07:00</published><updated>2008-07-28T17:04:45.263-07:00</updated><title type='text'>Permasalahan Penting Dalam Khutbah Jum'at</title><content type='html'>Khutbah Jum'at memiliki fungsi yang sangat penting&lt;br /&gt;dalam Islam, walaupun ia seperti nasehat-nasehat menuju ketaqwaan yang lain&lt;br /&gt;namun khutbah Jum'at memiliki kekhususan dan aturan yang telah diatur oleh&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alai wasallam. Namun masih banyak kekhilafan yang kerap&lt;br /&gt;terjadi di dalam praktekknya, apa saja itu, dan bangaimana sebaiknya.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMANJANGKAN KHUTBAH DAN&lt;br /&gt;MEMENDEKKAN SHALAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahid bin ‘Abdis Salam Baali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian khatib ada yang memanjangkan khutbahnya sampai terasa membosankan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sehingga bagian terakhir lupa pada bagian awalnya. Dan dengan demikian,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhirnya dia memendekkan shalat. Padahal jika melakukan sebaliknya, maka hal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itu telah sesuai dengan Sunnah Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim telah meriwayatkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Washil bin Hayyan, dia berkata, Abu Wa’il berkata, ‘Ammar pernah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memberi khutbah kepada kami dengan singkat dan padat isinya. Dan ketika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;turun, kami katakan kepadanya, ‘Wahai Abu Yaqzhan, sesungguhnya engkau telah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyampaikan dan menyingkat khutbah, kalau saja engkau memanjangkannya.’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dia menjawab, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pendek khutbahnya menjadi ciri pemahaman yang baik dalam agama. Oleh karena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itu, perpanjanglah shalat dan perpendeklah khutbah, dan sesungguhnya di&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;antara bagian dari penjelasan itu mengandung daya tarik.” [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam riwayat Ahmad disebutkan, artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ammar bin Yasir pernah memberi khutbah kepada kami, lalu dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyampaikannya secara singkat, maka ada seseorang dari kaum Quraisy yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau telah menyampaikan ungkapan yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;singkat lagi padat, kalau saja engkau memanjangkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telah melarang kami untuk memanjangkan khutbah.” [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An-Nawawi rahimahullahu mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits di atas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adalah bahwa shalat yang lebih dipanjangkan daripada khutbah, bukan panjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang dapat menyusahkan para makmum.” [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KHATIB TIDAK TERPENGARUH OLEH KHUTBAHNYA PADA SAAT MENYAMPAIKAN KHUTBAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian khatib ada yang menyampaikan khutbahnya dengan sangat lambat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sehingga suaranya pun tidak terdengar keras serta tidak terpengaruh oleh apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang disampaikannya, tidak juga bersemangat dalam menyampaikannya. Semuanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itu bertentangan dengan petunjuk Muhammad, sebaik-baik hamba Shallallahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shahiihnya: , artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Jabir bin ‘Abdullah z, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sallam terbiasa dalam berkhutbah dengan keadaan kedua mata beliau tampak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;merah, suaranya sangat lantang, dan amarah-nya memuncak…” [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KHATIB MEMEGANG PEDANG ATAU TONGKAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara khatib ada juga yang bersandar pada pedang atau tongkat saat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyampaikan khutbah Jum’at dengan anggapan bahwa hal tersebut me-rupakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunnah, atau bahwa Islam itu tersebar dengan menggunakan pedang. Secara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keseluruhan hal tersebut adalah salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidak pernah mengambil pedang atau yang lain-nya, hanya saja beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersandar pada busur atau tongkat sebelum beliau mempunyai mimbar.” [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KHATIB MENYAMPAIKAN HADITS-HADITS DHA’IF (LEMAH) DAN MAUDHU’ (PALSU)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian khatib ada yang tidak bisa membedakan hadits shahih dan hadits&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dha’if. Dia mengira semua hadits yang didapatkannya tertulis di dalam kitab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang boleh untuk disampaikan atau dijadikan landasan. Dan ini jelas salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, terdapat banyak hadits-hadits dusta yang dipalsukan atas nama Nabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, seorang khatib harus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berhati-hati agar tidak termasuk orang-orang yang berbohong atas Rasulullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau telah bersabda seperti yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa berdusta atas diriku dengan sengaja, maka hendaklah dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersiap-siap menempati tempat duduknya di Neraka.” [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyebarluaskan hadits-hadits dha’if dan maudhu’ merupakan upaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyebarluaskan bid’ah dan khurafat di kalangan masyarakat, karenanya aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nasihatkan kepada saudara-saudaraku para khatib melalui beberapa hal berikut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Pelajarilah beberapa buku yang menjelaskan hadits-hadits dha’if&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;agar dia berhati-hati terhadapnya sekaligus memperingatkan orang-orang agar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidak menjalankannya. Di antara buku-buku tersebut adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a]. Al-Fawaa-id al-Majmuu’ah fil Ahaadiits al-Baathilah wal Maudhuu’ah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karya asy-Syaukani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b]. Dha’iiful Jaami’, karya al-Albani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[c]. Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha’iifah wal Maudhuu-’ah, karya al-Albani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[d]. Mausuu’ah al-Ahaadiits adh-Dha’iifah, karya Syaikh Ali al-Halabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[e]. Tamyiizuth Thayyib minal Khabiits fiimaa Yaduuru ‘alaa Alsinatin Naas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;minal Hadiits, karya Ibnu ad-Daibi’ asy-Syaibani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[f]. Al-Jiddul Hatsiits fii Bayaani maa Laisa bi Hadiits, Ahmad bin ‘Abdul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kariim al-Gazi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[g]. Al-Kasyaful Ilahii ‘an Syadiid adh-Dha’f wal Waahii, Muhammad bin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad al-Husaini as-Sandarusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Gigih untuk menelaah naskah-naskah yang telah ditahqiq (diteliti)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari buku-buku yang dijadikan sandaran dalam memberikan khutbah, karena hal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itu akan dapat membantu membedakan yang shahih dari yang dha’if.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, mempersiapkan khutbah dengan sebaik-baiknya, menghafal hadits-hadits&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang akan dijadikan landasan di dalam khutbahnya sekaligus menyebutkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber-sumbernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIDAKTAHUAN BANYAK KHATIB TERHADAP KAIDAH-KAIDAH BA-HASA ARAB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini kita melihat adanya kelemahan yang bersifat umum mengenai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahasa Arab, baik dalam tatanan individu maupun umat secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, sedikit sekali orang yang mau memberi perhatian terhadap pelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahasa Arab serta menggunakannya dalam perbincangan secara baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini merupakan program terencana dari musuh-musuh Islam untuk menjauhkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;umat dari bahasa dan peninggalan serta keislamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari hal tersebut, para khatib, da’i, dan ulama secara khusus harus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;benar-benar mem-beri perhatian terhadap pelajaran bahasa Arab agar mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bisa memahami nash-nash syari’at dengan baik dan agar mereka bisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyampai-kan berbagai informasi dan hukum-hukum ke-pada kaum muslimin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melalui bahasa Arab yang shahih. Dan cukup bagi seorang khatib misalnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mempelajari satu buku saja tentang kaidah bahasa seperti, Syudzuur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adz-Dzahab, atau kaidah-kaidah dasar, dan berbagai macam buku bahasa yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mudah untuk memperbaiki bahasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KHATIB MENGANGKAT KEDUA TANGAN SAAT BERDO’A [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian khatib ada yang mengangkat kedua tangannya di atas mimbar pada saat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berdo’a. Dan ini jelas salah, karena yang benar adalah tidak mengangkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kedua tangan. Dan jika harus meng-angkat, maka hendaklah dia mengangkat jari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telunjuk saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shahiihnya bahwa ‘Ammarah bin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruwaibah Radhiyallahu ‘anhu pernah melihat Bisyir bin Marwan di atas mimbar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tengah mengangkat kedua tangannya, maka dia berkata, “Semoga Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memperburuk kedua tangan ini, karena sesungguhnya aku pernah menyaksikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lebih berdo’a dengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengisyaratkan tangannya seperti ini. Dan dia menunjukkan jari telunjuknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Dimakruhkan bagi imam untuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengangkat kedua tangannya saat berdo’a dalam khutbah, karena Nabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan jari telunjuknya jika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berdo’a. Sedangkan di dalam do’a Istisqa’ (minta hujan), maka beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengangkat kedua tangannya ketika beliau memohon hujan dari atas mimbar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kitab, al-Muharrar dia mengatakan, “Mengangkat kedua tangan saat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berdo’a di atas mimbar oleh khatib adalah bid’ah, sesuai dengan madzhab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maliki dan Syafi’i.” [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGANGKAT KEDUA TANGAN YANG DILAKUKAN OLEH JAMA’AH SAAT KHATIB BERDO’A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian kaum muslimin ada yang mengangkat tangan mereka saat khatib mulai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memanjatkan do’a di atas mimbar. Dan ini jelas sebagai kesalahan. Dan yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;benar adalah tidak mengangkat kedua tangan pada saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu ‘Abidin rahimahullahu mengatakan, al-Baqqaliyyu mengatakan, “Jika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seorang khatib mulai berdo’a, maka tidak diperbolehkan bagi jama’ah untuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengangkat kedua tangannya.” [11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab kitab al-Kalimaatun Naafi’ah fil Akhthaa' asy-Syaai’ah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab “75 Khatha'an fii Shalaatil Jumu’ah.” Edisi Indonesia 75 Kesalahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seputar Hari dan Shalat Jum’at, Karya Wahid bin ‘Abdis Salam Baali. Penerbit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustaka Ibnu Katsir] Oleh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahid bin ‘Abdis Salam Baali. Sumber :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.almanhaj.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 869).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (no. 18410).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Syarh Muslim Kitab al-Jumu’ah, bab Takhfiifish Shalaah wal Khutbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]. Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 867).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]. Zaadul Ma’aad (I/429).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6]. Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 110) dan Muslim (no. 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7]. Al-Baa’its, karya Abu Syamah (no. 263), Haasyiyah Ibnu ‘Abidin (I/768),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badzlul Majhuud (VI/105), al-Amr bil Itbaa’ (no. 247), serta Ishlaahul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masaajid (no. 49).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8]. Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 874).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9]. Al-Ikhtiyaaraat al-Fiqhiyyah (no. 80).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10]. Dinukil dari al-Furuu’, karya Ibnu Muflih, bab Shalaatil Jumu’ah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;fashl maa yusannu lil khutbah. Dan penulis kitab al-Muharrar ini adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majduddin Ibnu Taimiyyah, kakek Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang cukup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ternama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11]. Haasyiyah Ibnu ‘Abidin, bab al-Jumu’ah at-Tasbiih wa Nah-wuhu. Dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lihat pula kitab al-Qaulul Mubiin (no. 380), serta al-Ajwibatun Naafi’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(no. 73).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1613232504444729082-5812706791827235396?l=alfajr-pmtt.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/feeds/5812706791827235396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1613232504444729082&amp;postID=5812706791827235396' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default/5812706791827235396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default/5812706791827235396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/2008/07/permasalahan-penting-dalam-khutbah.html' title='Permasalahan Penting Dalam Khutbah Jum&apos;at'/><author><name>Achmad Fajar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09208296357391645542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_bIfRFYvumkk/SG-rBdLxhOI/AAAAAAAAABc/6omfbO1oxUY/S220/1_657328070l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1613232504444729082.post-6871071077551960858</id><published>2008-07-05T10:54:00.001-07:00</published><updated>2008-07-05T10:54:43.735-07:00</updated><title type='text'>Nasihat untuk para suami</title><content type='html'>Duhai suamiku...&lt;br /&gt;Kadangkala mungkin tergambar di benak fikiranmu, bahwa engkau telah salah ketika memilih diriku menjadi pasanganmu. Kadang kala ia mengganggu dalam pergaulan sehari-harimu denganku, terkadang ku takut perasaan cintamu berubah menjadi benci, limpahan kasih sayangmu menjelma menjadi kemarahan, dan ketenangan pun berubah menjadi ketegangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku.....&lt;br /&gt;Di saat engkau masih sibuk dengan pekerjaan yang tak kunjung selesai, tak jarang aku kau abaikan. Waktu di rumah pun, kadang ku ikhlaskan demi masa depanmu. Bukankah engkau tahu aku pun butuh perhatian darimu. Terkadang ku cari perhatian itu, namun terlihat salah dipandanganmu. Kalaulah itu terlihat salah, semoga engkau bisa melihat kebaikanku yang lain. Bukankah Allah SWT yang mempertemukan dan menyatukan hati kita berpesan, "Dan pergaulilah mereka (isterimu) dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." [QS: An Nisa' 19]. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang kita cintai pun berpesan, "Sempurnanya iman seseorang mukmin adalah mereka yang baik akhlaknya, dan yang terbaik (pergaulannya) dengan istri-istri mereka." Jika engkau melihat kekurangan pada diriku, ingatlah kembali pesan beliau, Jangan membenci seorang mukmin (laki-laki) pada mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarkah engkau bahwa tiada manusia di dunia ini yang sempurna segalanya? Bukankah engkau tahu bahwa hanyalah Allah yang Maha Sempurna. Tidaklah sepatutnya bila kau hanya menghitung-hitung kekurangan pasangan hidupmu, sedangkan engkau sendiri tak pernah sekalipun menghitung kekurangan dan kesalahanmu. Janganlah engkau mencari-cari selalu kesalahanku, padahal aku telah taat kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat diriku rela pergi bersama dirimu, kutinggalkan orangtua dan sanak saudaraku, ku ingin engkaulah yang mengisi kekosongan hatiku. Naungilah diriku dengan kasih sayang, dan senyuman darimu. Ku ingat pula saat aku ragu memilih siapa pendampingku, ketakwaan yang terlihat dalam keseharianmu-lah yang mempesona diriku. Bukankah sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Ali bin Abi Tholib saat ditanya oleh seorang, "Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak perempuan, dengan siapakah sepatutnya aku nikahkan dia?" Ali r.a. pun menjawab, "Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika ia tidak menyukainya maka dia tidak akan menzaliminya." Ku harap engkaulah laki-laki itu, duhai suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat terjadi kesalahan yang tak sengaja ku lakukan, mungkin saat itu engkau mendambakan diriku sebagai istri tanpa kekurangan dan kelemahan, sadarlah, sesungguhnya egois telah menguasai dirimu. Perbaikilah kekurangan diriku dengan lemah lembut, janganlah kasar terhadapku. Bukankah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada dirimu, saat Muawiah bin Ubaidah bertanya kepada beliau tentang tanggungjawab suami terhadap istri, beliaupun menjawab, "Dia memberinya makan ketika ia makan, dan memberinya pakaian ketika dia berpakaian." Janganlah engkau keras terhadapku, karena Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pun tak pernah berbuat kasar terhadap istri-istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai Suamiku...&lt;br /&gt;Tahukah engkau anugerah yang akan engkau terima dari Allah di akhirat kelak? Tahukah engkau pula balasan yang akan dianugerahkan kepada suami-suami yang berlaku baik terhadap istri-istri mereka? Renungkanlah bahwa, "Mereka yang berlaku adil, kelak di hari kiamat akan bertahta di singgasana yang terbuat dari cahaya. Mereka adalah orang yang berlaku adil ketika menghukum, dan adil terhadap istri-istri mereka serta orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya." [HR Muslim]. Kudoakan bahwa engkaulah yang kelak salah satu yang menempati singgasana tersebut, dan aku adalah permaisuri di istanamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau ada waktu ajarkanlah diriku dengan ilmu yang telah Allah berikan kepadamu. Apabila engkau sibuk, maka biarkan aku menuntut ilmu, namun tak akan kulupakan tanggungjawabku, sehingga kelak diriku dapat menjadi sekolah buat putra-putrimu. Bukankah seorang ibu adalah madrasah ilmu pertama buat putra-putrinya? Semoga engkau selalu mendampingiku dalam mendidik putra-putri kita dan bertakwa kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Allah,&lt;br /&gt;Engkau-lah saksi ikatan hati ini...&lt;br /&gt;Aku telah jatuh cinta kepada lelaki pasangan hidup ku,&lt;br /&gt;jadikanlah cinta ku pada suamiku ini sebagai penambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.&lt;br /&gt;Namun, kumohon pula, jagalah cintaku ini agar tidak melebihi cintaku kepada-Mu,&lt;br /&gt;hingga aku tidak terjatuh pada jurang cinta yang semu,&lt;br /&gt;jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu. Jika ia rindu,&lt;br /&gt;jadikanlah rindu syahid di jalan-Mu lebih ia rindukan daripada kerinduannya terhadapku,&lt;br /&gt;jadikan pula kerinduan terhadapku tidak melupakan kerinduannya terhadap surga-Mu.&lt;br /&gt;Bila cintaku padanya telah mengalahkan cintaku kepada-Mu,&lt;br /&gt;ingatkanlah diriku, jangan Engkau biarkan aku tertatih kemudian tergapai-gapai merengkuh cinta-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah,&lt;br /&gt;Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,&lt;br /&gt;telah berjumpa pada taat pada-Mu,&lt;br /&gt;telah bersatu dalam dakwah pada-Mu,&lt;br /&gt;telah berpadu dalam membela syariat-Mu.&lt;br /&gt;Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya.&lt;br /&gt;Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar.&lt;br /&gt;Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin ya rabbal alamin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1613232504444729082-6871071077551960858?l=alfajr-pmtt.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/feeds/6871071077551960858/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1613232504444729082&amp;postID=6871071077551960858' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default/6871071077551960858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default/6871071077551960858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/2008/07/nasihat-untuk-para-suami.html' title='Nasihat untuk para suami'/><author><name>Achmad Fajar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09208296357391645542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_bIfRFYvumkk/SG-rBdLxhOI/AAAAAAAAABc/6omfbO1oxUY/S220/1_657328070l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1613232504444729082.post-2521768622517352004</id><published>2008-07-05T10:47:00.001-07:00</published><updated>2008-07-05T10:47:37.510-07:00</updated><title type='text'>Hukum bekerja di Bank</title><content type='html'>PERTANYAAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya tamatan sebuah akademi perdagangan yang telah  berusaha&lt;br /&gt;mencari  pekerjaan  tetapi  tidak  mendapatkannya kecuali di&lt;br /&gt;salah satu bank. Padahal, saya  tahu  bahwa  bank  melakukan&lt;br /&gt;praktek  riba.  Saya  juga tahu bahwa agama melaknat penulis&lt;br /&gt;riba. Bagaimanakah sikap  saya  terhadap  tawaran  pekerjaan&lt;br /&gt;ini?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;JAWABAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sistem ekonomi dalam Islam ditegakkan  pada  asas  memerangi&lt;br /&gt;riba   dan  menganggapnya  sebagai  dosa  besar  yang  dapat&lt;br /&gt;menghapuskan berkah dari  individu  dan  masyarakat,  bahkan&lt;br /&gt;dapat mendatangkan bencana di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hal  ini  telah  disinyalir di dalam Al Qur'an dan As Sunnah&lt;br /&gt;serta telah disepakati oleh umat. Cukuplah kiranya jika Anda&lt;br /&gt;membaca firman Allah Ta'ala berikut ini:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     "Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.&lt;br /&gt;     Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap&lt;br /&gt;     dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa." (Al&lt;br /&gt;     Baqarah: 276)&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;     "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada&lt;br /&gt;     Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum&lt;br /&gt;     dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka&lt;br /&gt;     jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa&lt;br /&gt;     riba) maka ketabuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya&lt;br /&gt;     akan memerangimu ..." (Al Baqarah: 278-279)&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Mengenai hal ini Rasulullah saw. bersabda&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;     "Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu&lt;br /&gt;     negeri, berarti mereka telah menyediakan diri&lt;br /&gt;     mereka untuk disiksa oleh Allah." (HR Hakim)1&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam peraturan dan tuntunannya Islam menyuruh umatnya  agar&lt;br /&gt;memerangi  kemaksiatan.  Apabila  tidak  sanggup, minimal ia&lt;br /&gt;harus menahan diri agar perkataan maupun perbuatannya  tidak&lt;br /&gt;terlibat   dalam   kemaksiatan   itu.   Karena   itu   Islam&lt;br /&gt;mengharamkan  semua  bentuk  kerja  sama   atas   dosa   dan&lt;br /&gt;permusuhan,   dan  menganggap  setiap  orang  yang  membantu&lt;br /&gt;kemaksiatan bersekutu dalam dosanya bersama pelakunya,  baik&lt;br /&gt;pertolongan   itu   dalam  bentuk  moril  ataupun  materiil,&lt;br /&gt;perbuatan ataupun  perkataan.  Dalam  sebuah  hadits  hasan,&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda mengenai kejahatan pembunuhan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     "Kalau penduduk langit dan penduduk bumi bersekutu&lt;br /&gt;     dalam membunuh seorang mukmin, niscaya Allah akan&lt;br /&gt;     membenamkan mereka dalam neraka." (HR Tirmidzi)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sedangkan tentang khamar beliau saw. bersabda:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     "Allah melaknat khamar, peminumnya, penuangnya,&lt;br /&gt;     pemerahnya, yang meminta diperahkan, pembawanya,&lt;br /&gt;     dan yang dibawakannya." (HR Abu Daud dan Ibnu&lt;br /&gt;     Majah)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian juga terhadap praktek suap-menyuap:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     "Rasulullah saw. melaknat orang yang menyuap, yang&lt;br /&gt;     menerima suap, dan yang menjadi perantaranya." (HR&lt;br /&gt;     Ibnu Hibban dan Hakim)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemudian mengenai riba, Jabir bin Abdillah r.a. meriwayatkan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     "Rasulullah melaknat pemakan riba, yang memberi&lt;br /&gt;     makan dengan hasil riba, dan dua orangyang menjadi&lt;br /&gt;     saksinya." Dan beliau bersabda: "Mereka itu sama."&lt;br /&gt;     (HR Muslim)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ibnu Mas'ud meriwayatkan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     "Rasulullah saw. melaknat orang yang makan riba&lt;br /&gt;     dan yang memberi makan dari hasil riba, dua orang&lt;br /&gt;     saksinya, dan penulisnya." (HR Ahmad, Abu Daud,&lt;br /&gt;     Ibnu Majah, dan Tirmidzi)2&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sementara itu, dalam riwayat lain disebutkan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     "Orang yang makan riba, orang yang memben makan&lt;br /&gt;     dengan riba, dan dua orang saksinya --jika mereka&lt;br /&gt;     mengetahui hal itu-- maka mereka itu dilaknat&lt;br /&gt;     lewat lisan Nabi Muhammad saw. hingga han kiamat."&lt;br /&gt;     (HR Nasa'i)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hadits-hadits sahih yang sharih itulah  yang  menyiksa  hati&lt;br /&gt;orang-orang  Islam  yang  bekerja  di bank-bank atau syirkah&lt;br /&gt;(persekutuan)   yang   aktivitasnya   tidak    lepas    dari&lt;br /&gt;tulis-menulis dan bunga riba. Namun perlu diperhatikan bahwa&lt;br /&gt;masalah riba ini tidak hanya berkaitan dengan  pegawai  bank&lt;br /&gt;atau  penulisnya pada berbagai syirkah, tetapi hal ini sudah&lt;br /&gt;menyusup ke dalam sistem ekonomi  kita  dan  semua  kegiatan&lt;br /&gt;yang berhubungan dengan keuangan, sehingga merupakan bencana&lt;br /&gt;umum sebagaimana yang diperingatkan Rasulullah saw.:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     "Sungguh akan datang pada manusia suatu masa yang&lt;br /&gt;     pada waktu itu tidak tersisa seorangpun melainkan&lt;br /&gt;     akan makan riba; barangsiapa yang tidak memakannya&lt;br /&gt;     maka ia akan terkena debunya." (HR Abu Daud dan&lt;br /&gt;     Ibnu Majah)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kondisi seperti ini tidak dapat diubah dan diperbaiki  hanya&lt;br /&gt;dengan  melarang  seseorang  bekerja di bank atau perusahaan&lt;br /&gt;yang mempraktekkan riba.  Tetapi  kerusakan  sistem  ekonomi&lt;br /&gt;yang  disebabkan  ulah  golongan  kapitalis  ini hanya dapat&lt;br /&gt;diubah oleh  sikap  seluruh  bangsa  dan  masyarakat  Islam.&lt;br /&gt;Perubahan  itu  tentu  saja harus diusahakan secara bertahap&lt;br /&gt;dan  perlahan-lahan  sehingga  tidak  menimbulkan  guncangan&lt;br /&gt;perekonomian  yang dapat menimbulkan bencana pada negara dan&lt;br /&gt;bangsa. Islam sendiri tidak melarang umatnya untuk melakukan&lt;br /&gt;perubahan    secara   bertahap   dalam   memecahkan   setiap&lt;br /&gt;permasalahan yang pelik.  Cara  ini  pernah  ditempuh  Islam&lt;br /&gt;ketika  mulai  mengharamkan riba, khamar, dan lainnya. Dalam&lt;br /&gt;hal ini yang terpenting adalah tekad  dan  kemauan  bersama,&lt;br /&gt;apabila  tekad  itu  telah bulat maka jalan pun akan terbuka&lt;br /&gt;lebar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setiap  muslim  yang  mempunyai  kepedulian  akan  hal   ini&lt;br /&gt;hendaklah  bekerja  dengan  hatinya,  lisannya,  dan segenap&lt;br /&gt;kemampuannya melalui berbagai wasilah  (sarana)  yang  tepat&lt;br /&gt;untuk   mengembangkan   sistem  perekonomian  kita  sendiri,&lt;br /&gt;sehingga  sesuai  dengan  ajaran   Islam.   Sebagai   contoh&lt;br /&gt;perbandingan,  di  dunia  ini  terdapat beberapa negara yang&lt;br /&gt;tidak memberlakukan sistem riba, yaitu mereka yang  berpaham&lt;br /&gt;sosialis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di  sisi lain, apabila kita melarang semua muslim bekerja di&lt;br /&gt;bank, maka dunia perbankan dan sejenisnya akan dikuasai oleh&lt;br /&gt;orang-orang  nonmuslim  seperti  Yahudi dan sebagainya. Pada&lt;br /&gt;akhirnya, negara-negara Islam akan dikuasai mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terlepas dari semua itu,  perlu  juga  diingat  bahwa  tidak&lt;br /&gt;semua  pekerjaan  yang  berhubungan  dengan  dunia perbankan&lt;br /&gt;tergolong riba. Ada diantaranya yang halal dan baik, seperti&lt;br /&gt;kegiatan  perpialangan,  penitipan,  dan  sebagainya; bahkan&lt;br /&gt;sedikit pekerjaan di sana yang termasuk haram.  Oleh  karena&lt;br /&gt;itu,  tidak  mengapalah  seorang  muslim  menerima pekerjaan&lt;br /&gt;tersebut --meskipun hatinya tidak rela-- dengan harapan tata&lt;br /&gt;perekonomian  akan  mengalami  perubahan menuju kondisi yang&lt;br /&gt;diridhai agama  dan  hatinya.  Hanya  saja,  dalam  hal  ini&lt;br /&gt;hendaklah  ia  rnelaksanakan tugasnya dengan baik, hendaklah&lt;br /&gt;menunaikan kewajiban terhadap dirinya dan  Rabb-nya  beserta&lt;br /&gt;umatnya sambil menantikan pahala atas kebaikan niatnya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     "Sesungguhnya setiap orang memperoleh apa yang ia&lt;br /&gt;     niatkan." (HR Bukhari)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebelum  saya  tutup  fatwa  ini  janganlah  kita  melupakan&lt;br /&gt;kebutuhan  hidup  yang  oleh  para fuqaha diistilahkan telah&lt;br /&gt;mencapai tingkatan darurat. Kondisi inilah yang mengharuskan&lt;br /&gt;saudara  penanya  untuk  menerima pekerjaan tersebut sebagai&lt;br /&gt;sarana mencari penghidupan dan  rezeki,  sebagaimana  firman&lt;br /&gt;Allah SWT:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     "... Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa&lt;br /&gt;     (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan&lt;br /&gt;     tidak (pula) melampaui batas maka tidak ada dosa&lt;br /&gt;     baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi&lt;br /&gt;     Maha Penyayang." (Al Baqarah: 173}&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Catatan kaki:&lt;br /&gt;1 Hakim mengatakan bahwa hadits ini sahih isnadnya.&lt;br /&gt;2 Tirmidzi mensahihkannya. Hadits ini diriwayatkan pula&lt;br /&gt;  oleh Ibnu Hibban dan Hakim, dan mereka mensahihkannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1613232504444729082-2521768622517352004?l=alfajr-pmtt.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/feeds/2521768622517352004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1613232504444729082&amp;postID=2521768622517352004' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default/2521768622517352004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default/2521768622517352004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/2008/07/hukum-bekerja-di-bank.html' title='Hukum bekerja di Bank'/><author><name>Achmad Fajar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09208296357391645542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_bIfRFYvumkk/SG-rBdLxhOI/AAAAAAAAABc/6omfbO1oxUY/S220/1_657328070l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1613232504444729082.post-6412122049768777832</id><published>2008-07-05T10:38:00.001-07:00</published><updated>2008-07-05T10:38:32.682-07:00</updated><title type='text'>Memimpin dengan kesederhanaan</title><content type='html'>Sa’ad bin Al-Jamhi pernah diprotes rakyatnya karena selalu terlambat masuk kantor. Itu, karena ia tak memiliki pembantu dan harus membantu istrinya  memasak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ImageHidayatullah.com--Sesaat setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam wafat, kaum Muslimin segera mencari pengganti untuk melanjutkan kepemimpinan Islam. Ketika itu Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu memegang tangan Umar bin Khaththab Ra dan Abu Ubaidah bin Jarrah Ra sambil mengatakan kepada khalayak, “Salah satu dari kedua orang ini adalah yang paling tepat menjadi khalifah. Umar yang  dikatakan oleh Rasulullah sebagai orang yang dengannya Allah memuliakan Islam dan Abu Ubaidah yang dikatakan Rasulullah sebagai kepercayaan ummat ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Umar gemetar mendengar kata-kata Abu Bakar itu, seakan ia kejatuhan bara yang menyala. Abu Ubaidah menutup mukanya dan menangis dengan rasa malu yang sangat. Umar bin Khaththab lalu berteriak, “Demi Allah, aku lebih suka dibawa ke depan lalu leherku ditebas walau tanpa dosa, daripada diangkat menjadi pemimpin suatu kaum dimana terdapat Abu Bakar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Umar ini membuat Abu Bakar terdiam, karena tidak mengharapkan dirinya yang ditunjuk menjadi khalifah. Dia menyadari dirinya sangat lemah dalam mengendalikan pemerintahan. Tidak setegas Umar, dan tidak sebijak Abu Ubaidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi akhirnya pikiran dan perasaan semua orang terarah kepada Abu Bakar. Karena dialah sesungguhnya yang paling dekat ditinjau dari berbagai aspek untuk menduduki jabatan khalifah yang teramat berat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seabrek alasan dapat dikemukakan untuk menunjuk Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dialah yang dianggap paling dekat dengan Rasulullah dan paling kuat imannya sesuai pernyataan Nabi, “Kalau iman seluruh ummat Islam ditimbang dengan iman Abu Bakar, maka lebih berat iman Abu Bakar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka terangkatlah Abu Bakar sebagai khalifah pengganti Nabi Saw. Saat pertama kali Abu Bakar menginjakkan kaki di mimbar Rasulullah, ia hanya sampai pada anak tangga kedua dan duduk di situ tanpa berani melanjutkan ke anak tangga berikutnya, sambil berpidato, “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya aku diangkat menjadi pemimpin kalian, tapi aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat  baik maka bantulah aku. Dan jika aku berbuat kesalahan maka luruskanlah aku. Ketahuilah, sesungguhnya orang yang lemah di antara kalian adalah orang yang kuat di sisiku, hingga aku berikan hak kepadanya. Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka jika aku durhaka, janganlah kalian taat kepadaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang khalifah  berusaha menjaga wibawa kepemimpinan. Tapi dalam kedudukannya sebagai seorang pemimpin dia berusaha meyakinkan orang yang di bawah kepemimpinannya bahwa jabatan  adalah amanah yang menuntut tanggung jawab, bukan penguasaan. Penguasa adalah satu orang di antara ummat, bukan ummat dalam satu orang. Abu Bakar tidak menginginkan karena jabatan, dia jadi jauh dengan ummat. Sebaliknya, dia ingin semakin dekat dengan mereka. Terhadap ketentuan Nabi dia menyatakan, “Saya lebih rela diterkam serigala daripada merubahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah gambaran ketegangan yang terjadi pada waktu pemilihan jabatan. Semua orang menolak jabatan, padahal kapasitas para sahabat sangat memadai untuk memegang kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Abu Bakar wafat, Umar bin Khaththab disepakati tampil sebagai pengganti. Umar yang memegang amanah selama dua pelita (10 tahun) 6 bulan dan 4 hari berhasil menggurat sejarah yang merubah peta dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki perkasa yang digambarkan kekuatannya saat menentang Islam di zaman jahiliyah sama dengan kekuatan seluruh kaum Quraisy, telah tampil dengan perkasa  pula di zaman Islam membela kebenaran, membayar dosa-dosa jahiliyahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia larutkan dalam pengabdian mewujudkan pemerintah yang bersih dan bertanggung jawab. Kontrolnya berjalan efektif, sehingga seluruh rakyatnya tidak ada yang luput dari perhatiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika penduduk pinggiran kota kena paceklik, Umar sendiri yang memikul gandum di pundaknya, lalu mengantarkan ke rakyatnya yang tengah dilanda kelaparan. Lalu penduduk itu segera dipindahkan ke kota untuk mempermudah pemantauannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam di kota Madinah kedatangan kafilah yang membawa barang dagangan. Diajaknya Abdurrahman bin Auf menemani penjaga kafilah itu semalam suntuk. Tapi tidak jauh dari tempat kafilah itu ada bayi yang selalu menangis, tidak mau diam. Umar berulangkali menasihati bahkan memarahi ibunya karena tidak dapat mendiamkan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu sang anak itu lalu berkomentar bahwa, “Inilah kesalahan Umar karena hanya anak yang tidak menyusui yang diberi tunjangan, sehingga anak yang usianya baru beberapa bulan ini terpaksa saya sapih.” Umar sangat terpukul mendengar kata-kata ibu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menjadi imam shalat Subuh, bacaan ayatnya tidak jelas karena diiringi tangis. Usai shalat langsung diumumkan bahwa seluruh anak kecil mendapat tunjangan dari baitul mal, termasuk yang masih menyusu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegas dan Sederhana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip ketegasan dan kesederhanaan dipegang kuat oleh Umar. Para gubernur yang bertugas di daerah cukup kewalahan dengan sikap itu. Pernah Amru bin Ash, gubernur yang sangat berjasa menaklukkan Mesir, diberi hukuman cambuk karena seorang rakyat Mesir melapor bahwa  dirinya pernah dipukul sang Gubernur. Orang yang melapor itu sendiri yang disuruh memukulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga Abdulah bin Qathin, seorang gubernur yang bertugas di Hamash, dilucuti pakaiannya lalu disuruh menggantinya dengan baju gembala, kemudian disuruh menggembala domba beberapa saat. Sebelumnya ada yang diperintahkan membakar pintu rumahnya, karena salah seorang rakyatnya bercerita setelah ditanya oleh Umar tentang keadaan gubernurnya. Dia menjawab, “Cukup bagus, hanya sayangnya karena dia mendirikan rumah mewah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian gubernur itu disuruh memasang kembali bajunya dan dipesan, “Kembalilah ke tempat tugasmu tapi jangan berbuat demikian lagi. Saya tidak pernah memerintahkan engkau membangun rumah besar,” tegas Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, terhadap gubernurnya yang sederhana, Umar sangat sayang. Seperti yang dilakukannya terhadap Sa’ad bin Al-Jamhi yang diprotes rakyatnya karena selalu terlambat membuka kantornya, tidak melayani rakyatnya di malam hari dan tidak membuka kantor sehari dalam seminggu. Itu dilakukan karena Sa’ad tidak memiliki pembantu sehingga dia membantu istrinya membuatkan adonan roti. Nanti setelah adonan itu mengembang, barulah berangkat ke kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa’ad tidak melayani rakyatnya di malam hari karena waktu itu digunakan untuk bermunajat dan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan sengaja tidak membuka kantor sehari dalam seminggu kecuali di sore hari karena ia harus mencuci pakaian dinas dan menunggu hingga kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di zaman sekarang, model kepemimpinan seperti ini mungkin dianggap tidak efektif. Orang menyebutnya manajemen tukang sate, yakni harus mengiris daging sendiri, menusuk sate, dan membakarnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu letak perbedaannya ada  pada pola pikir dan cara pandang. Para sahabat Nabi sangat takut terhadap pertanggungjawaban di akhirat. Sekecil apapun persoalan ummat menjadi perhatiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kebanyakan kepemimpinan saat ini dengan prinsip yang penting ada pembagian tugas, lalu pandai membuat laporan. Tidak peduli laporan itu fiktif atau bukan. Ditambah dengan lemahnya kontrol dan pemantauan, maka dimana-mana terjadi penyelewengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Wakil Presiden Adam Malik pernah bertutur, “Semua bisa diatur.” Artinya di depan umum selalu berbicara tentang supremasi hukum, namun dalam kenyataannya berpura-pura.&lt;br /&gt;Ini akibat tidak takut kepada Allah. Baginya bukan siksaan di akhirat yang mengerikan , tapi hanya risiko dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang seperti ini terkadang menantang-nantang akhirat segala. Inilah yang dimaksudkan ayat  Allah dalam surat Az-Zumar ayat 45: “Dan apabila nama Allah yang disebut, kesallah orang-orang yang tidak percaya terhadap keberadaan akhirat. Tetapi apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, mereka tiba-tiba merasa gembira.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh dapat kita bayangkan seperti apa nasib negeri kita kalau orang-orang yang duduk di puncak kekusaan memiliki orientasi berpikir seperti itu. Sangat mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tidak keliru bila ummat di zaman kini kembali berkaca kepada kesederhanaan sahabat. Alangkah mulianya pribadi Umar bin Khaththab yang membuat peraturan untuk para gubernurnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jangan memiliki kendaraan istimewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jangan memakai pakaian tipis (halus dan mahal harganya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jangan makan-makan  yang enak-enak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Jangan menutup rumahmu bila orang memerlukanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu dimaksudkan agar para gubernur dapat merasakan apa yang dirasakan oleh yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;Semoga pemimpin di negeri ini dapat merenungi beratnya tanggung jawab memegang amanah rakyat. Bila tidak, bisa jadi akan diadili oleh mahkamah sejarah. Lebih mengerikan lagi tuntutan tanpa pembela di mahkamah akhirat nanti.* [Manshur Salbu. Diambil dari Rubrik “Hikmah” di Majalah Hidayatullah/ www.hidayatullah.com]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1613232504444729082-6412122049768777832?l=alfajr-pmtt.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/feeds/6412122049768777832/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1613232504444729082&amp;postID=6412122049768777832' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default/6412122049768777832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default/6412122049768777832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/2008/07/memimpin-dengan-kesederhanaan.html' title='Memimpin dengan kesederhanaan'/><author><name>Achmad Fajar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09208296357391645542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_bIfRFYvumkk/SG-rBdLxhOI/AAAAAAAAABc/6omfbO1oxUY/S220/1_657328070l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1613232504444729082.post-7281643178478981146</id><published>2008-07-05T10:33:00.001-07:00</published><updated>2008-07-05T10:33:37.778-07:00</updated><title type='text'>Hati-hati dengan salam!</title><content type='html'>Hidayatullah.com--Ucapan ”Assalamu’alaikum”, السلام عليكم, merupakan anjuran agama, dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan umat beragama, dengan salam dapat menjalin persaudaraan dan kasih sayang, karena orang yang mengucapkan salam berarti mereka saling mendo’akan agar mereka mendapat keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kalian tak akan masuk surga sampai kalian beriman dan saling mencintai. Maukah aku tunjukkan satu amalan bila dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Yaitu, sebarkanlah salam di antara kalian.” [HR Muslim dari Abi Hurairah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya seringkali menerima sms atau e-mail dari beberapa kawan dan juga beberapa ustadz yang mengawali salamnya dengan singkatan. Singkatannya pun macam-macam. Ada yang singkat seperti "Asw" atau "Aslm". Ada yang sedikit lebih panjang seperti ; “Ass Wr Wb” atau “Aslmwrwb” .  Namun yang  sering saya dapatkan, adalah singkatan "Ass". Singkatan terakhir ini paling umum dan paling sering digunakan. Bagi saya, ini adalah singkatan yang tidak enak untuk dibaca, terlebih kalau mengerti artinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita simak singkatan ini. Dalam kamus linguistik yang saya punya, arti dari kata Ass yang berasal dari bahasa Inggris itu adalah sebagai berikut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ass” berarti: Pertama, kb. (animal) yang artinya keledai. Kedua, orang yang bodoh. Don't be a silly (Janganlah sebodoh itu). Dan ketiga, Vlug (pantat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal seperti kita ketahui ucapan Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh adalah sebuah ucapan salam sekaligus doa yang kita tujukan kepada orang lain. Ucapan salam dalam Islam sesungguhnya merupakan do’a seorang Muslim terhadap saudara Muslim yang lain. Maka, apabila kita mengucap salam dengan hanya menuliskan "Ass", secara tidak sadar mungkin kita malah mendoakan hal yang buruk terhadap saudara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita paham, mungkin banyak orang diantara kita cukup sibuk dan ingin cepat buru-buru menulis pesan. Barangkali, singkatan itu bisa mempercepat pekerjaan. Karena itu, penulis menyarankan, jika memang keadaan sedang tidak memungkinkan untuk menulis salam lewat SMS dengan kalimat lengkap karena sedang menyetir di jalan, misalnya, solusinya cukup mudah adalah menulis pesan to the point saja. Tulislah “met pagi, met siang, met malam dan seterusnya. Ini masih lebih baik dibandingkan kita harus memaksakan diri menggunakan singkatan dari doa keselamatan Assalamu'alaikum menjadi "Ass" (pantat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sampai awalnya kita ingin menyampaikan doa keselamatan yang terjadi justeru sebaliknya, mendoakan keburukan.  Kalau boleh saya mengistilahkah, niat baik ingin berdoa, jadinya malah ucapan kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan salam adalah ucapan penghormatan dan doa. Apabila kita dihormati dengan suatu penghormatan maka seharusnya kita membalas dengan sebuah penghormatan pula yang lebih baik, atau minimal, balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah akan memperhitungkan setiap yang kamu kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasa saja, kalau kita mengganti ucapan kalimat salam arti awalnya sangat mulia, maka, yang terjadi adalah sebaliknya, salah dan bisa-bisa menjadi umpatan kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, jika tidak berhati-hati, mengganggati ucapan Assalamu’alaikum (Semoga sejahtera atasmu) dengan menyingkatnya menjadi “Ass” (pantat), ini mirip dengan mengganti doa yang baik dengan mengganti dengan bahasa jalanan orang Jakarta, yang artinya kira-kira, berubah arti menjadi (maaf) “Pantat Lu!”&lt;br /&gt;Singkatan ala Rasulullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski nampak sederhana, ucapan salam sudah diatur oleh agama kita (Islam). Ucapan Assalamu alaikum السلام عليكم dalam Bahasa Arab, digunakan oleh kaum Muslim. Salam ini adalah Sunnah Nabi Muhammad SAW, intinya untuk merekatkan ukhuwah Islamiyah umat Muslim di seluruh dunia. Mengucapkan salam, hukumnya adalah sunnah. Sedangkan bagi yang mendengarnya, wajib untuk menjawabnya. Itulah agama kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Islam datang, orang Arab terbiasa menggunakan ungkapan-ungkapan salam yang lain, seperti Hayakallah. Artinya semoga Allah menjagamu tetap hidup. Namun ketika Islam datang, ucapan itu diganti menjadi Assalamu ‘alaikum. Artinya, semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Al-Arabi didalam kitabnya Al-Ahkamul Qur’an mengatakan, bahwa salam adalah salah satu ciri-ciri Allah SWT dan berarti "Semoga Allah menjadi Pelindungmu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa Rasul bersabda, “Kamu tidak akan masuk surga hingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman hingga kamu saling mencintai (karena Allah). Apakah kamu maujika aku tunjukkanpada satu perkara jika kamu kerjakan perkara itu maka kamu akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kamu!”   (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Umammah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Orang yang lebih dekat kepada Allah SWT adalah yang lebih dahulu memberi Salam.” (Musnad Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Mas’ud RA meriwayatkan Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Salam adalah salah satu Asma Allah SWT yang telah Allah turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam. Ketika seseorang memberi salam kepada yang lain, derajatnya ditinggikan dihadapan Allah. Jika jama’ah suatu majlis tidak menjawab ucapan salamnya maka makhluk yang lebih baik dari merekalah (yakni para malaikat) yang menjawab ucapan salam.” (Musnad Al Bazar, Al Mu’jam Al Kabir oleh At Tabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang kikir yang sebenar-benarnya kikir ialah orang yang kikir dalam menyebarkan Salam.” Allah SWT berfirman didalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 86. Demikianlah Allah SWT memerintahkan agar seseorang membalas dengan ucapan yang setara atau yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya agama kita dengan agama lain, setiap Muslim ketika mengucapkan salam kepada saudaranya, dia akan diganjar dengan kebaikan (pahala).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaidah singkat menyingkat pun sudah diatur oleh Allah dan diajarkan kepada Rasulullah. Dalam suatu pertemuan bersama Rasulullah SAW, seorang sahabat datang dan melewati beliau sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum”. Rasulullah SAW lalu bersabda, “Orang ini mendapat 10 pahala kebaikan,” ujar beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian datang lagi sahabat lain. Ia pun mengucapkan, “Assalamu‘alaikum Warahmatullah.” Kata Rasulullah SAW, “Orang ini mendapat 20 pahala kebaikan.” Kemudian lewat lagi seorang sahabat lain sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum warahmatullah wa baraokatuh.” Rasulullah pun bersabda, “Ia mendapat 30 pahala kebaikan.” [HR. Ibnu Hibban dari Abi Hurairah].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah dari tiga singkatan itu silahkanAnda pilih yang mana yang Anda inginkan tanpa harus menyingkatnya sendiri yang justru bisa menghilangkan nilai pahalanya. Tentu saja, jangan Anda lupakan, tiga singkatan itu sudah rumus dari Nabi yang dipilihkan untuk kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi yang perlu diingat adalah ketika kita menuliskan kata Assalamu'alaikum, perlu diperhatikan agar jangan sampai huruf L nya tertinggal sehingga menjadi Assaamu'alaikum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena apa ? Diriwayatkan bahwa dahulu ada seorang Yahudi yang memberi salam kepada Nabi dengan ucapan "Assaamu 'alaika ya Muhammad" (Semoga kematian dilimpahkan kepadamu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kata assaamu ini artinya kematian. Kata ini adalah plesetan dari "Assalaamu 'alaikum". Maka nabi berkata, "Kalau orang kafir mengatakan padamu assaamu 'alaikum, maka jawablah dengan wa 'alaikum (Dan semoga atas kalian pula)." [HR. Bukhari]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini, mungkin nampak sederhana. Meski sederhana, dampaknya cukup besar. Boleh jadi, kita belum pernah membayangkannya selama ini. Nah, setelah ini, sebaiknya alangkah lebih baik jika memulai kembali menyempurnakan salam kepada saudara kita. Tapi andaikata memang kondisi tak memungkinkan, sebaiknya, pilihlah singkatan yang sudah dipilihkan Nabi kita Muhammad SAW tadi. Mungkin Anda agak capek sedikit tidak apa-apa, sementara sedikit capek, 30 pahala kebaikan telah kita kantongi. [indra yogiswara,tinggal di Jakarta/www.hidayatullah.com]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1613232504444729082-7281643178478981146?l=alfajr-pmtt.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/feeds/7281643178478981146/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1613232504444729082&amp;postID=7281643178478981146' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default/7281643178478981146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default/7281643178478981146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/2008/07/hati-hati-dengan-salam.html' title='Hati-hati dengan salam!'/><author><name>Achmad Fajar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09208296357391645542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_bIfRFYvumkk/SG-rBdLxhOI/AAAAAAAAABc/6omfbO1oxUY/S220/1_657328070l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1613232504444729082.post-120878331087054294</id><published>2008-07-05T10:22:00.000-07:00</published><updated>2008-07-05T10:23:15.170-07:00</updated><title type='text'>Murnikan Agamamu!</title><content type='html'>Kehidupan beragama kaum muslimin yang telah banyak mengalami penambahan-penambahan, tentunya butuh kepada pemurnian. Sehingga agama mereka kembali sebagaimana diturunkannya pertama kali.&lt;br /&gt;Umar bin Khattab berkata, “Kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan dengan selain islam, Allah akan menghinakan kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh benar apa yang dikatakan oleh beliau. Melalui sejarah kita bisa melihat, tidak ada suatu kaum yang lebih mulia dari pada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Hal itu karena mereka benar-benar memahami dan mengamalkan ajaran Nabi mereka yang masih murni tanpa tercampuri perkara-perkara baru. Mereka sangat jauh dari perkara baru yang diada-adakan di dalam agama. Mereka paham bahwa perkara-perkara baru itu bukan dari islam dan hanya akan membawa kehinaan dan kerugian kepada pelakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BID’AH SEBAB KEHINAAN DAN KERUGIAN&lt;br /&gt;Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa mengada-adakan suatu perkara baru di dalam urusan (agama) kami ini padahal bukan termasuk darinya, maka ia tertolak.” (Muttafaqun ‘alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perkara (tuntunan-pen) kami padanya maka ia tertolak.” (Riwayat Muslim no. 1718)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya tertolak, bahkan perkara baru itu adalah merupakan kesesatan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( وَ إِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ اْلأُمُورِ ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٌ ضَلاَلَةٌ ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jauhilah perkara-perkara yang baru (dalam agama –pen), karena setiap perkara yang baru adalah bidah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Dishahihkan oleh Al-Albani, lihat Ash-Shahihah no. 2735)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka adakah orang yang lebih hina dari pada orang yang berada di dalam kesesatan dan ditolak amal perbuatannya? Allah ta'ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِاْلأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا * أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآَيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلاَ نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 103-105)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang makna ayat ini Ali radhiallahu'anhu berkata, “… Dan sesungguhnya ayat ini umum (mencakup) setiap orang yang beribadah kepada Allah dengan jalan yang tidak diridhai. Dia menyangka bahwa jalan itu benar dan amalnya diterima padahal dia telah salah dan tertolak amalnya.” (Lihat Tafsir Ibni Katsir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KENYATAAN YANG ADA&lt;br /&gt;Namun sayang, apa yang telah diwanti-wanti oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah terjadi pula dikalangan kaum muslimin. Alangkah banyaknya kaum muslimin yang menganggap suatu perkara termasuk dalam agama padahal agama islam berlepas diri darinya. Dalam segala hal!!!&lt;br /&gt;Sebagai contoh, dalam aqidah (keyakinan), mereka memiliki anggapan bahwa Allah berada di mana-mana atau Allah berada di hatiku. Padahal Allah menetapkan bahwa Dia di atas seluruh makhluk-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang menyangka, termasuk penghormatan kepada para Nabi dan orang-orang shalih kita berdoa kepada Allah dengan perantara Jaah (kedudukan) mereka di sisi Allah. Padahal kalimat laa ilaaha illallah menuntut kita untuk berdoa hanya kepada Allah semata secara langsung, tanpa menjadikan orang yang telah wafat atau kedudukan mereka sebagai perantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang menyangka bahwa kubur para Nabi, wali dan orang-orang shalih memiliki keutamaan, sehingga mereka berduyun-duyun untuk beribadah di sana. Sedangkan syariat islam yang sempurna melarang kita menjadikan kubur sebagai tempat peribadahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang menyangka, hanya dengan meyakini Allah itu ada, Dia satu-satunya pencipta dan pemberi rizki, seseorang berarti telah mengamalkan laa ilaaha illallah. Padahal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerangi kaumnya yang memiliki keyakinan demikian sampai mereka memurnikan ibadah hanya kepada Allah azza wa jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang menyangka, cukup dengan ikhlas dalam ibadah maka ibadah akan diterima oleh Allah. Padahal islam tidak akan tegak kecuali dengan dua kaliamt syahadat, laa ilaaha illallah yang menuntut keikhlasan dan muhammad rasulullah yang menuntut agar amal ibadah sesuai dengan yang beliau ajarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang menyangka, termasuk bukti kecintaan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan merayakan kelahiran beliau. Padahal Allah menjadikan bukti kecintaan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan mengikuti Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan beliau ataupun sahabat beliau tidak pernah merayakan kelahiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak hal lain dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, akhlak, politik, ekonomi dan berbagai sisi kehidupan manusia, yang dianggap dari islam padahal agama ini berlepas diri darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEWAJIBAN KITA&lt;br /&gt;Bila demikian keadaannya, maka sungguh kita harus benar-benar membersihkan aqidah, ibadah, muamalah dan seluruh sisi kehidupan kita dari seluruh noda-noda yang mengotori agama kita. Sehingga kita benar-benar akan kembali kepada islam yang murni, sesuai dengan yang dianut oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu kita mulai dari diri kita, kita pelajari bagaimana cara beragama umat terbaik dan termulia, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya. Kita teladani mereka dan kita tinggalkan segala hal yang bertentangan dengannya. Kemudian, kita dakwahkan agama yang telah murni dan bersih itu kepada masyarakat, kita didik anak cucu kita dengan berlandaskan kepadanya, kita dorong umat ini kepada kebaikan-kebaikan dan kita peringatkan mereka dari keburukan-keburukan yang ada, sebagaimana dahulu para rasul diutus sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, hanya kepada Allah kita memohon agar mengembalikan kemuliaan kaum muslimin sebagaimana dahulu mereka telah mulia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1613232504444729082-120878331087054294?l=alfajr-pmtt.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/feeds/120878331087054294/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1613232504444729082&amp;postID=120878331087054294' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default/120878331087054294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default/120878331087054294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/2008/07/murnikan-agamamu.html' title='Murnikan Agamamu!'/><author><name>Achmad Fajar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09208296357391645542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_bIfRFYvumkk/SG-rBdLxhOI/AAAAAAAAABc/6omfbO1oxUY/S220/1_657328070l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1613232504444729082.post-1115042699586559289</id><published>2008-07-05T09:58:00.000-07:00</published><updated>2008-07-05T09:59:28.332-07:00</updated><title type='text'>Pemimpin dalam Islam</title><content type='html'>Assalamu ‘alaykum,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji adalah hanya layak bagi ALLAH, kami memuji-NYA, meminta pertolongan kepada-NYA &amp; meminta ampunan, dan kami berlindung dari keburukan hawa nafsu kami dan dari kejelekan amal-amal kami, barangsiapa diberi hidayah oleh ALLAH maka tiada yang dapat menyesatkannya &amp; barangsiapa yang disesatkan ALLAH maka tiada yang dapat memberinya hidayah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kami bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali ALLAH, Yang Maha Esa &amp; tiada sekutu bagi-NYA, dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah Nabi &amp; rasul-NYA. Kamipun bersaksi sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabuLLAAH &amp; sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi SAW, dan seburuk-buruk urusan adalah yang dibuat-buat, dan semua yang dibuat-buat itu adalah bid’ah &amp; semua bid’ah adalah sesat &amp; semua kesesatan adalah di neraka…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah wa akhwat fiLLAAH a’anakumuLLAAHa jami’an,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambut mulai masuknya sebagian du’at ke marhalah daulah &amp; makin banyaknya ikhwah wa akhwat yang menduduki posisi-posisi penting dalam pemerintahan (baik eksekutif maupun legislatif), dan semakin hari semakin banyak amanah kekuasaan yang diujikan oleh ALLAH SWT untuk dipegang oleh para du’at dari harakah ini, maka ada beberapa dhawabith kepemimpinan Islam yang merupakan ashalah da’wah kita, yang hendaknya selalu dijaga &amp; diperhatikan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar dijadikan sebagai Ma’alim Fi Thariq (Rambu-rambu dalam Perjalanan), demikian kata Sayyid Quthb -ja’alahuLLAAHu syahidan- atau sebagai Nurun ‘ala Darb (Cahaya dalam Perjalanan), demikian kata Syaikh Ibni Baaz -rahimahuLLAAH-; sehingga kita tidak menjadi ghurur (lupa diri), ataupun terjadi tamyi’ (pengenceran) terhadap nilai-nilai dakwah ini saat mengemban amanah memimpin ummat ini insya ALLAH, aamiin ya RABB…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu ana berusaha membuat tulisan ini untuk mencoba menjelaskan secara singkat Etika Kepemimpinan dalam Islam, serta Etika yang Saling Timbal-Balik, apa yang harus dilakukan &amp; dipenuhi oleh seorang qiyadah (baik qiyadah dakwah maupun qiyadatul ummah), dan apa saja yang wajib dipenuhi oleh seorang jundiyyah (baik junudu dakwah maupun junudu daulah), sehingga mudah-mudahan kita selalu berada di dalam jalur yang benar &amp; berhak mengharapkan ridha ALLAH &amp; Jannah kelak, sebagai pemimpin ummat yang adil yang paling pertama akan diberi naungan oleh ALLAH SWT di yaumil Mahsyar kelak, aamiin ya RABB…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa ufawwidhu amrii ilALLAAH innaLLAAHa bashiirun bil ‘Ibaad,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abi AbduLLAAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AL-ADAAB AL-MUTABAADILAH BAYNA AL-QIYAADAH WAL JUNDIYYAH FII DHAU’IL KITAABI WAS SUNNAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Etika Timbal-balik Antara Pemimpin &amp; Bawahan Menurut Al-Qur’an &amp; As-Sunnah yang Shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya di Hari Kiamat kelak.[1]”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. KEPEMIMPINAN DALAM LUGHAH:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Imam: Asal katanya ‘Amama’ karena ia: Berada di depan (amam), mengasuh (ummah), menyempurnakan (atammah), menenangkan (yanamma). Berkata Imam Al-Jauhary : Imam adalah orang yang memberi petunjuk (yuqtada)[2].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Amir: Yang memberi perintah (seperti dalam ayat : Amarna mutrafiha), juga sesuatu yang mengagumkan (seperti dalam ayat : laqad ji’ta syai’an imra)[3].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Waliyy: Dekat, akrab (Jalasa mimma yali=duduk dengan orang didekatnya); tempat memberikan loyalitas (ALLAHumma man waliya min amri ummati)[4].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Qadah/qiyadah: Penggiring ternak, orang yang memberi petunjuk, pemandu atau penunjuk jalan[5].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Khalifah: Para fuqaha’ mendefinisikannya sbg suatu kepemimpinan umum yg mencakup urusan keduniaan &amp; keagamaan, sbgm yg dilakukan oleh Nabi SAW yg wajib dipatuhi oleh seluruh ummat Islam. Menurut Imam Al-Mawardi sama dengan al-Imamah, karena inilah asal dari kepemimpinan di masa Nabi SAW, yaitu untuk memimpin agama &amp; keduniaan[6]. Menurut Ibnu Khaldun yaitu penanggungjawab umum dimana seluruh urusan kemaslahatan syari’at baik ukhrawiyyah maupun dunyawiyyah kembali kepadanya[7].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. KEPEMIMPINAN DALAM AL-QUR’AN:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Memiliki Loyalitas yang Mutlak: “Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi Pemimpinnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.[8]”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kuat &amp; Amanah: “Berkata salah seorang diantara anaknya (Syu’aib) : Wahai ayahanda, jadikanlah ia sebagai pegawai, karena sebaik-baik pegawai adalah yang kuat lagi bisa dipercaya.[9]”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Sehat &amp; Berilmu: “…Sesungguhnya ALLAH SWT telah memilihnya (Thalut) sebagai rajamu, karena ia memiliki kekuatan fisik dan berilmu. Sesungguhnya ALLAH memberikan kekuasaan-NYA kepada siapa yang dikehendaki-NYA, sesungguhnya IA Maha Luas (ilmu-NYA) lagi Maha Mengetahui.[10]”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Merupakan Ujian ALLAH SWT: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: Sesungguhnya AKU akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata: (Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman: Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zhalim.[11]“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Merupakan Tanda Ketaqwaan: “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.[12]”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. KEPEMIMPINAN DALAM AS-SUNNAH:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Jujur dan Tidak Menipu: Nabi SAW melaknat pemimpin yang dipercaya untuk mengurus urusan ummat lalu ia malah menipu atau menyengsarakan mereka, sebagaimana dalam sabdanya SAW : “Ya ALLAH, siapa saja yang diberikan kekuasaan untuk mengurusi ummatku lalu ia menyengsarakan mereka, maka persulitlah ia. Dan siapa saja yang diberi kekuasaan lalu ia mempermudah mereka, maka mudahkanlah ia.[13]” Dan Islam menyatakan bahwa pemimpin yang tidak memperhatikan kebutuhan, kedukaan dan kemiskinan ummat maka ALLAH SWT tidak akan memperhatikan kebutuhan, kedukaan dan kemiskinannya pada Hari Kiamat kelak[14].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Adil &amp; Amanah: Islam menempatkan pemimpin yang adil dan amanah dalam derajat manusia yang tertinggi, yang memperoleh berbagai penghargaan dan kehormatan. Diantaranya ia termasuk kelompok pertama yang dinaungi oleh ALLAH SWT diantara 7 kelompok utama yang dinaungi-NYA pada Hari Kiamat kelak[15]; Iapun akan berada di atas mimbar dari cahaya nanti di Hari Kiamat[16]; Dan pemimpin yang demikianlah yang akan senantiasa dicintai dan didoakan oleh rakyatnya karena kebijaksanaannya memimpin rakyatnya[17]; Sehingga dalam salah satu haditsnya, nabi SAW sampai menyatakan bahwa pemimpin yang demikian termasuk 3- golongan manusia yang paling utama dan paling berhak masuk Jannah, disamping orang yang lembut dan penyayang pada keluarganya dan orang miskin yang menjaga dirinya dari meminta-minta[18].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Tidak Wajib Taat pada Pemimpin yang Memerintahkan Maksiat: Oleh karena itu di dalam Islam pemimpin yang memiliki sifat-sifat sebagaimana disebutkan diataslah yang berhak dan wajib untuk ditaati (Tafsir QS An-Nisaa’, 4:59), syarat taat pada pemimpin dalam ayat tersebut adalah mu’allaq/tergantung pada apakah ia taat pada ALLAH SWT dan Rasul SAW atau tidak, dimana cirinya adalah ia senantiasa kembali kepada ALLAH SWT dan rasul-NYA SAW jika terjadi perbedaan pendapat ataupun perselisihan) dan bukan pemimpin yang memiliki sifat sebaliknya, jika ia memiliki sifat sebaliknya maka tidak wajib sama sekali untuk didengar dan ditaati[19].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Tidak ada Batasan Ras/Kebangsaan: Tentang siapa pemimpin itu Islam tidak membatasi ia dari ras dan kelompok apapun, asal mengikuti dan menegakkan syariat maka wajib ditaati, sekalipun ia adalah seorang yang berkulit sangat hitam yang kepalanya bagaikan kismis (saking hitamnya)[20]. Kendatipun demikian, afdhal memilih pemimpin disesuaikan dengan suku/kebangsaan rakyat yg dipimpinnya[21].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Pemimpin Wajib Memilih Bawahan yang Jujur: Seorang pemimpin yang adil tentunya akan memilih pembantu-pembantu, wakil-wakil dan menteri-menteri yang adil pula. Tidak mungkin seorang yang baik (tanpa keterpaksaan) akan mengangkat atau memilih wakil dan menteri yang merupakan para musuh ALLAH SWT, seperti para koruptor, kaum oportunis apalagi para kolaborator asing[22]. Benarlah pernyataan pemimpin abadi kita nabi Muhammad SAW : “Jika ALLAH SWT menghendaki kebaikan kepada seorang penguasa, maka IA akan memberikan untuknya menteri-menteri yang jujur, (yaitu) yang jika ia khilaf maka selalu mengingatkan dan jika ia ingat maka selalu dibantu/didorong. Dan jika ALLAH SWT menghendaki keburukan kepada seorang penguasa, maka IA akan memberikan untuknya para menteri yang jahat. Jika penguasa itu lupa, maka tidak diingatkan dan jika ia ingat maka tidak didorong/dibantu.[23]”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. KEWAJIBAN TAAT PADA PEMIMPIN YANG ISLAMI:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Wajib Taat pada Pemimpin yang Islami: Bersabda Nabi SAW : “Barangsiapa yg taat kepadaku maka ia telah taat kepada ALLAH, dan barangsiapa yg tidak taat kepadaku maka berarti tidak taat kepada ALLAH. Barangsiapa yg taat kepada Pimpinan (yg nyunnah) maka berarti ia telah taat kepadaku, dan barangsiapa yg tidak taat kepada pimpinan (yg nyunnah) maka berarti ia telah tidak taat kepadaku.[24]”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Ketaatan tersebut tetap Berlaku Walaupun Di Satu Sisi Seolah Mengorbankan Kepentingan sebagian Rakyatnya: Dari Abu Hunaidah, Wa’il bin Hajar ra berkata : Bertanya Salmah bin Yazid al-Ju’fiy pd Rasulullah SAW : Wahai Nabi Allah … bgm pendptmu jk ada seorg pemimpin yg selalu meminta ketaatan dari kami tapi tidak memberikan hak kami, apa yg anda perintahkan pd kami ? Maka Rasulullah SAW memalingkan wajahnya, mk Salmah bertanya lagi yg kedua kali, maka jawab Rasulullah SAW : Dengarlah oleh kalian semua dan taatilah ia, karena bagi kalian pahala ketaatan kalian dan baginya dosa ketidakadilannya.[25]”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Dosanya Memisahkan Diri dari Ketaatan pada Pimpinan yang Islami: Bersabda Nabi SAW : “Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan, maka ia kelak akan bertemu dengan ALLAH SWT tanpa dapat mengemukakan argumentasi apapun.[26]” Dalam hadits lainnya: “Barangsiapa meninggalkan ketaatan lalu memisahkan dirinya dari Jama’ah lalu ia meninggal maka ia mati Jahiliyyah.[27]” Perhatikan baik-baik dalam hadits tersebut disebutkan Al-Jama’ah, yg maksudnya Jama’ah Islam, bukan sembarang pemerintahan, (lihat pula judul bab pada takhrij hadits tersebut di dalam Shahih Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. BENTUK-BENTUK KETAATAN:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Mendengarkan dan memahami perintah dengan sebaik-baiknya, memohon penjelasan sampai jelas kemudian melaksanakannya dengan tidak menunda-nunda dan dengan sebaik-sebaiknya. Lihat kisah Ali bin Abi Thalib ra dalam perang Khaibar dalam Shahih Bukhari[28].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Melipatgandakan kesabaran saat melaksanakan perintah tersebut, ikhlas dan tidak menguranginya atau menambahinya sedikitpun. Lihat kisah Jundub bin Makits al-Juhni saat dalam Sariyah[29].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Melaksanakan dengan segera perintah tersebut, walaupun tidak sesuai dengan pendapatnya atau berbeda dengan keinginannya, lihat kisah Hudzaifah bin Yaman saat perang Ahzab[30].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Saling memberi dan menerima nasihat. Lihat kisah Umar bin Khattab ra saat perjanjian Hudhaibiyyah dengan Nabi SAW &amp; Abubakar ra[31].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Meminta izin dalam setiap urusan pentingnya atau sebelum mengambil keputusannya[32].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WaLLAAHu a’lamu bish Shawaab…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1613232504444729082-1115042699586559289?l=alfajr-pmtt.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/feeds/1115042699586559289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1613232504444729082&amp;postID=1115042699586559289' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default/1115042699586559289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default/1115042699586559289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/2008/07/pemimpin-dalam-islam.html' title='Pemimpin dalam Islam'/><author><name>Achmad Fajar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09208296357391645542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_bIfRFYvumkk/SG-rBdLxhOI/AAAAAAAAABc/6omfbO1oxUY/S220/1_657328070l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1613232504444729082.post-1555824584342139304</id><published>2008-07-05T09:46:00.000-07:00</published><updated>2008-07-05T09:51:14.917-07:00</updated><title type='text'>Banyak amal tetapi banyak dosa</title><content type='html'>Sebagian manusia telah menganggap remeh atas dosa-dosa mereka, mereka menganggap bahwa kebaikan-kebaikan mereka sudah terlalu banyak sehingga akan menenggelamkan dosa-dosa yang mereka lakukan. Padahal jika seseorang meremehkan dosa-dosa, maka sungguh ia telah terpedaya oleh syaitan&lt;br /&gt;Sebagian manusia telah menganggap remeh atas dosa-dosa mereka, mereka menganggap bahwa kebaikan-kebaikan mereka sudah terlalu banyak, mereka menganggap bahwa amalan-amalan shalih mereka sudah begitu melimpah sehingga pahala yang mereka kumpulkanpun sudah begitu menggunung. Mereka menganggap bahwa shalat malamnya, puasa senin kamisnya, haji dan umrahnya, infaqnya dan seterusnya dari amalan-amalan shalih yang mereka kerjakan akan seperti lautan yang akan menenggelamkan dosa-dosa yang mereka lakukan. Jika seseorang menganggap remeh suatu dosa, ketahuilah bahwa sesungguhnya dia telah terpedaya oleh syaitan, walaupun mereka telah banyak beramal dengan amalan-amalan ketaatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku yang semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu...&lt;br /&gt;Allah ta'ala memberikan permisalan tentang orang yang telah mengumpulkan banyak kebaikan akan tetapi nanti di akhirat, amalan kebaikan yang diandalkannya tidak dapat banyak bermanfaat, Allah berfirman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَنْ تَكُونَ لَهُ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ لَهُ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَأَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاءُ فَأَصَابَهَا إِعْصَارٌ فِيهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah, Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (QS. Al-Baqarah:266)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas radhiallahu'anhuma ketika menjelaskan ayat di atas, beliau mengilustrasikan dengan orang kaya yang beramal karena taat kepada Allah, kemudian Allah mengutus setan padanya, lalu orang itu melakukan banyak kemaksiatan sehingga amal-amalnya terhapus (Tafsir Ibnu Katsier)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku yang semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu...&lt;br /&gt;Janganlah sekali-kali kita meremehkan dosa karena kita menganggap sudah mempunyai amal kebaikan yang banyak. Ketahuilah wahai saudaraku bahwa belum tentu amal kebaikan yang kita kerjakan dihitung sebagai amal shaleh di sisi Allah, apakah karena kita tidak ikhlas atau tidak sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, amal kebaikan juga akan dapat terhapus dengan kemaksiatan-kemaksiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsauban radhiaallahu'anhu meriwayatkan sebuah hadits yang dapat membuat orang-orang shalih susah tidur dan selalu mengkhawatirkan amal-amal mereka. Tsauban radhiaallahu'anhu berkata, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لأعلمن أقواما من أمتي يأتون يوم القيامة بحسنات أمثال جبال تهامة بيضا فيجعلها الله هباء منثورا . قال ثوبان : يا رسول الله صفهم لنا جلهم لنا أن لا نكون منهم و نحن لا نعلم ، قال : أما إنهم إخوانكم و من جلدتكم و يأخذون من الليل كما تأخذون و لكنهم أقوام إذا خلو بمحارم الله انتهكوها&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar melihat diantara umatku pada hari Kiamat nanti, ada yang datang dengan membawa kebaikan sebesar gunung di Tihamah yang putih, lalu Allah menjadikannya seperti kapas berterbangan, Tsauban bertanya, Ya Rasulullah, jelaskan kepada kami siapa mereka itu agar kami tidak seperti mereka sementara kami tidak mengetahui!, Beliau bersabda, Mereka adalah saudara-saudara kalian dan sebangsa dengan kalian, mereka juga bangun malam seperti kalian, akan tetapi apabila mendapat kesempatan untuk berbuat dosa, mereka melakukannya (HR. Ibnu Majah, disahihkan oleh Syaikh Al-Bany dalam Silsilatul Ahaadits Shahihah No,505)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, masihkah kita merasa bangga dengan amal-amal kita kemudian berbuat dosa dan menganggap bahwa dosa kita akan tenggelam dalam lautan amalan shalih kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka wajib bagi kita untuk senantiasa bersabar, bersabar dan bersabar. Sabar dalam melaksanakan ketaatan dan sabar dalam menjauhi dosa-dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah merahmati Imam Ahmad yang mengatakan bahwa sabar adalah terus menerus sampai seseorang menapakkan kakinya di Surga kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang bertanya kepada Abu Hurairah radhiallahu'anhu tentang makna takwa, Abu Hurairah kemudian bertanya kepada orang tersebut, Apakah engkau pernah melewati jalan yang berduri? Ia menjawab, Ya pernah. Abu Hurairah bertanya lagi, Apa yang engkau lakukan, Ia menjawab, Jika aku melihat duri maka aku menghindar darinya, atau melangkahinya, atau mundur darinya, Abu Hurairah berkata, Seperti itulah takwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bukanlah dikatakan takwa jika seseorang sengaja menerjang rambu-rambu syariat, mengerjakan apa-apa yang diharamkan oleh Allah atau meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kita juga harus takut karena kita tidak tau kapan ajal akan menjemput! Kalau kita amati disekitar kita, maka kita dapati bahwa jumlah manula lebih sedikit daripada orang muda dan anak-anak, hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan manusia meninggal dalam usia muda, maka waspadalah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku yang semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu...&lt;br /&gt;Terakhir saudaraku, hendaknya kita senantiasa bertakwa dan tidak meremehkan dosa-dosa agar kita tidak seperti yang digambarkan dalam ayat dan hadits di atas, semoga Allah menjadikan kita nanti, termasuk yang diseru dalam firman-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ * ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً * فَادْخُلِي فِي عِبَادِي * وَادْخُلِي جَنَّتِي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, Maka masuklah ke dalam Surga-Ku (Al-Fajr: 27-30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi&lt;br /&gt;1. Tafsir Ibnu Katsier&lt;br /&gt;2. Silsilatul Ahaadits Shahihah, Syaikh Al-Bany&lt;br /&gt;3. Jami' ulumul wal hikam, Ibnu Rajab&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1613232504444729082-1555824584342139304?l=alfajr-pmtt.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/feeds/1555824584342139304/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1613232504444729082&amp;postID=1555824584342139304' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default/1555824584342139304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default/1555824584342139304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/2008/07/banyak-amal-tetapi-banyak-dosa.html' title='Banyak amal tetapi banyak dosa'/><author><name>Achmad Fajar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09208296357391645542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_bIfRFYvumkk/SG-rBdLxhOI/AAAAAAAAABc/6omfbO1oxUY/S220/1_657328070l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1613232504444729082.post-8523792098464071195</id><published>2008-07-05T09:35:00.000-07:00</published><updated>2008-07-05T09:39:15.872-07:00</updated><title type='text'>Definisi Shalat</title><content type='html'>Shalat menurut bahasa mempunyai arti: do’a/ rahmat. (al-Ahzab: 56 &amp; al-Baqarah: 157). Menurut istilah, shalat ialah suatu ibadah yang terdiri dari ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam disertai dengan syarat-syarat tertentu&lt;br /&gt;Definisi Shalat&lt;br /&gt;Shalat menurut bahasa mempunyai arti: do’a/ rahmat. (al-Ahzab: 56 &amp; al-Baqarah: 157). Menurut istilah, shalat ialah suatu ibadah yang terdiri dari ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam disertai dengan syarat-syarat tertentu. Lafadz shalat dibentuk dari kata الصِّلَةُ, karena ia yang menghubungkan antara hamba dengan Tuhannya serta mendekatkan diri kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum shalat terbagi kepada Fardhu dan Nafilah/sunnah. Demikianlah pendapat semua madzhab kecuali Madzhab Hanafi. Berikut pembagiannya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Fardhu&lt;br /&gt;Shalat fardhu ialah shalat yang diwajibkan untuk mengerjakannya. Shalat Fardhu terbagi lagi menjadi dua, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Fardhu ‘Ain : ialah kewajiban yang diwajibkan kepada mukallaf langsung berkaitan dengan dirinya dan tidak boleh ditinggalkan ataupun dilaksanakan oleh orang lain, seperti shalat yang lima, dan shalat Jum’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Fardhu Kifayah : ialah kewajiban yang diwajibkan kepada Mukallaf tidak langsung berkaitan dengan dirinya. Kewajiban itu menjadi sunnah setelah ada sebagian orang yang mengerjakannya. Akan tetapi bila tidak ada orang yang mengerjakannya maka kita wajib mengerjakannya dan menjadi berdosa bila tidak dikerjakan. Seperti shalat jenazah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Nafilah (shalat sunnat)&lt;br /&gt;Shalat nafilah adalah shalat-shalat yang dianjurkan atau disunnahkan akan tetapi tidak diwajibkan. Shalat nafilah terbagi lagi menjadi dua, yaitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Nafil Muakkad adalah shalat sunnat yang dianjurkan dengan penekanan yang kuat (hampir mendekati wajib), seperti shalat dua hari raya, shalat sunnat witr dan shalat sunnat thawaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Nafil Ghairu Muakkad adalah shalat sunnat yang dianjurkan tanpa penekanan yang kuat, seperti shalat sunnat Rawatib dan shalat sunnat yang sifatnya insidentil (tergantung waktu dan keadaan, seperti shalat kusuf/khusuf hanya dikerjakan ketika terjadi gerhana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum Shalat dan Ancaman bagi yang Meninggalkannya.&lt;br /&gt;Shalat hukumnya wajib. Artinya bila ia dilaksanakan berpahala, sedangkan bila ditinggalkan berdosa. Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(قُلْ لِعِبَادِيَ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خِلَالٌ (إبراهيم :31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan (QS.Ibrahim :31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي سُفْيَانَ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرًا يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ (رواه مسلم (و أحمد وأبو داود والنسائ والترمذي وابن ماجه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Sufyan ia berkata, Aku telah mendengar Jabir berkata, aku telah mendengar Nabi s.a.w bersabda: “Sesungguhnya batas antara seseorang dengan Syirik dan kekufuran adalah meninggalkan shalat”. (HR. Muslim, Abu Daud, an-Nasaie, at-Turmudzie dan Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang meninggalkan shalat maka halal darahnya sebagaimana Rasul bersabda dalam haditsnya, sbb :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ , وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ , وَيُؤْتَوْا الزَّكَاةَ , فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Umar bahwasanya Nabi s.a.w bersabda: aku diperintah untuk memerangi orang sampai ia mengucapkan 2 kalimat syahadat, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka mengerjakan itu semua maka terlindunglah darahnya dan hartanya dari seranganku kecuali dengan hak. sedangkan perhitungan mereka ada di tangan Allah yang Maha Mulia.&lt;br /&gt;- Manfa’at dan Hikmah Shalat&lt;br /&gt;- Dapat mencegah perbuatan yang keji dan mungkar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ (العنكبوت : 45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan)&lt;br /&gt;keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat lain) Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (al-‘Ankabut : 45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Mencegah pelakunya dari Aneka macam Kesesatan&lt;br /&gt;فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ&lt;br /&gt;فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا (مريم : 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang&lt;br /&gt;menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan (Maryam: 59)&lt;br /&gt; Shalat dapat menjauhkan diri dari sifat Mengeluh &amp; Kikir&lt;br /&gt;إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا  إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا  وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا  إِلَّا الْمُصَلِّينَ  الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ&lt;br /&gt;(المعارج: 19-23)&lt;br /&gt;Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya (al-Ma’arij : 19-23)&lt;br /&gt; Menghapus dosa-dosa kecil&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ&lt;br /&gt;(رواه مسلم و أحمد و الترمذي وابن ماجه)&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda, Shalat lima kali sehari dan shalat jum’at ke jum’at merupakan pelebur dosa selama tidak melakukan dosa besar ( HR. Muslim, Ahmad, Turmudzie dan Ibnu Majah)&lt;br /&gt; Selamat dari Siksa Hari Kiamat&lt;br /&gt;مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَنَتْ لَهُ نُوْرًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ&lt;br /&gt;(رواه أحمد وابن حبان والطبراني)&lt;br /&gt;Barang siapa yang menjaga shalatnya, niscaya ia akan menjadi&lt;br /&gt;cahaya, bukti dan penyelamat baginya pada hari kiamat&lt;br /&gt;(HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan ath-Thabrani)&lt;br /&gt; Menenangkan dan menentramkan hati&lt;br /&gt;قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : جُعِلَتْ قُرَّةَ عَيْنِيْ فِيْ الصَّلاَةِ (رواه أحمد و النسائ)&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda: Penyejuk Hatiku ada di dalam shalat&lt;br /&gt;(HR. Ahmad dan an-Nasaie)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hal-hal yang mesti dilakukan sebelum shalat&lt;br /&gt; Suci dari Najis, baik Najis Ma’nawiyyah maupun Hissiyyah&lt;br /&gt; Najis Ma’nawiyyah ialah najis yang menodai akidah dan tak dapat diindera ataupun dilihat oleh mata manusia, seperti Syirik dan Kufur. Orang musyrik tidak boleh masuk dan menetap di dalam masjid karena mereka najis kecuali bila telah masuk Islam.&lt;br /&gt; Najis Hissiyyah ialah Najis yang dapat dilihat oleh mata manusia dan dapat diindera, seperti jilatan anjing, kotoran manusia ataupun hewan, kencing, darah haidh dan nifas, madzie dan wadi.&lt;br /&gt; Suci dari Hadats Besar dan Hadats Kecil&lt;br /&gt; Hadats besar adalah peristiwa/ keadaan yang mewajibkan seseorang untuk mandi janabat, seperti keluar mani, bersenggama, haidh dan nifas. Adapun tata cara mandi janabat ialah :&lt;br /&gt;1. Mencuci kedua tangan dengan air&lt;br /&gt;2. Mencuci qubul (kelamin) dan dubur.&lt;br /&gt;3. Bewudhu’ sebagaimana wudhu’nya shalat, namun hanya sampai kepala.&lt;br /&gt;4. Mengusap kepala dan menyela-nyela rambut hingga ke pangkalnya dengan air secara merata.&lt;br /&gt;5. Menyiram kepala dan seluruh anggota tubuh dengan air sebanyak tiga kali kemudian yang terakhir mencuci kaki.&lt;br /&gt;Semua ini dilakukan bila terdapat air, namun bila tidak mendapatkan air maka tayammum adalah cara yang disyari’atkan sebagai penggantinya. Tayammum adalah suatu bentuk kewajiban bersuci dengan menggunakan debu sebagai pengganti air. Tata cara tayammum:&lt;br /&gt;1. Membaca Bismillah&lt;br /&gt;2. Menepukkan dua tangan ke tanah (debu) kemudian meniupnya&lt;br /&gt;3. Mengusapkan ke muka dan kedua tangan hingga pergelangan dimulai dari tangan kanan lalu tangan kiri. Semuanya dilakukan hanya satu kali. Apa-apa yang membatalkan wudhu` juga membatalkan tayammum.&lt;br /&gt;Seseorang yang keluar mani (junub) dengan sengaja atau mimpi basah sebelum ia mandi janabat, maka diharamkan baginya; shalat, thawaf dan menetap dalam masjid kecuali hanya berlalu saja.&lt;br /&gt;Orang yang sedang haidh atau nifas sebelum suci dari haidh dan nifasnya itu, diharamkan baginya; shalat, puasa, thawaf, menetap dalam masjid dan bersenggama (bersetubuh).&lt;br /&gt; Hadats kecil adalah peristiwa atau keadaan yang menyebabkan seseorang harus berwudhu` ketika ia hendak mengerjakan shalat. Hadats kecil disebabkan oleh :&lt;br /&gt;1. Keluar sesuatu dari Qubul ataupun Dubur&lt;br /&gt;2. Tidur nyenyak&lt;br /&gt;3. Menyentuh Persunatan bila tidak ada penghalang&lt;br /&gt;Cara bersuci dari hadats kecil ialah dengan berwudhu`. Tata cara Wudhu` :&lt;br /&gt;1. Membaca Bismillah&lt;br /&gt;2. Membasuh kedua tangan hingga ke pergelangan tangan sebanyak tiga kali.&lt;br /&gt;3. Berkumur-kumur, istinsyaq dan istinsyar (menghirup air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya kembali) sebanyak 3 kali.&lt;br /&gt;4. Membasuh muka tiga kali&lt;br /&gt;5. Mencuci tangan kanan sampai siku sebanyak tiga kali kemudian mencuci tangan kiri sampai siku sebanyak tiga kali.&lt;br /&gt;6. Mengusap kepala satu kali dengan air yakni dengan mengusapnya dari depan kepala hingga ke tengkuk lalu menjalankan tangan kembali ke depan sambil kedua telunjuk dimasukkan dalam lipatan daun telinga, diusap seluruh bagian-bagian telinga depan maupun belakangnya.&lt;br /&gt;7. Kemudian membasuh kedua kaki dari jari-jari kaki hingga kedua mata kaki, dimulai dari kaki yang kanan baru kemudian kaki yang kiri.&lt;br /&gt;8. Setelah wudhu` berdo’a :&lt;br /&gt;أَشْهَدُ أَنْ لاََاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَ شْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ (رواه مسلم)&lt;br /&gt;(ASYHADU AL-LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUHU)&lt;br /&gt;Aku bersaksi tidak ada Tuhan melainkan Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Hal-hal yang berkaitan dengan Wudhu`&lt;br /&gt;Jika seseorang terkena penyakit beser sehingga air kencingnya keluar terus-menerus, maka hendaknya ia berwudhu` untuk melakukan shalat fardhu ketika telah masuk waktu shalat (jarak antara wudhu` dan shalat dipercepat). Ia harus mencuci farjinya terlebih dahulu dan memercikkan/ membasahi celananya dengan air (istihlal). Setelah melakukan istihlal ia tidak mesti mengulang wudhu`nya jika kencingnya keluar lagi, kecuali bila banyak. Jikalau ia tidak sanggup menahan kencingnya itu maka ia harus membalutnya dengan sesuatu sehingga tidak mengenai pakaian dan badannya. Demikianlah yang harus ia lakukan pada setiap shalat fardhu.&lt;br /&gt;Bila seseorang merasa ragu-ragu apakah ia buang angin atau tidak dalam shalatnya itu, maka teruskanlah shalatnya, sampai ia merasa yakin bahwa ia telah buang angin. Rasulullah bersabda :&lt;br /&gt;وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُمَا اَنَّ رَسُوْلَ اللّهِ j قَالَ يَاْتِيْ أَحَدُكُمُ الشَّيْطَانُ فِيْ صَلاَتِهِ فَيَنْفُخُ فِيْ مَقْعَدَتِهِ فَيُخَيَّلُ اِلَيْهِ أنَّهُ أَحْدَثَ وَلَمْ يُحْدِثْ فَإِذَا وَجَدَ ذَالِكَ فَلاَ يَنَْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدْ رِيْحًا (رواه البزار وأصله في صَحِيحَين)&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas r.a bahwasanya Rasulullah s.a.w bersabda: “Syaitan akan datang kepada salah seorang kamu waktu shalat lalu ia meniup-niup pada pantatnya, dan mengkhayalkan kepadanya bahwa ia telah berhadats, padahal ia tidak berhadats. Apabila yang terjadi demikian, janganlah ia keluar dari shalat, sehingga ia yakin mendengar suara atau mencium baunya (HR.Bazzar dan asalnya dari Bukharie-Muslim)&lt;br /&gt;Adapun bersentuhan dengan wanita maka ia tidak membatalkan wudhu`, yang membatalkan wudhu` ialah hadats besar dan hadats kecil.&lt;br /&gt;قَالَتْ عَائِشَةُ : كَانَ النَّبِيُّ j يُقَبِّلُ بَعْضَ أَزْوَاجِهِ ثُمَّ يُصَلِّى وَلاَ يَتَوَضَّأْ&lt;br /&gt;‘Aisyah berkata: “Nabi s.a.w pernah mencium salah seorang istrinya lalu ia shalat padahal ia tidak berwudhu` lagi (HR. an-Nasaie)&lt;br /&gt; Menutup Aurat&lt;br /&gt;Aurat menurut bahasa ialah kekurangan. Menurut Syar’I adalah segala sesuatu yang wajib ditutupi atau sesuatu yg diharamkan meman-dangnya. Sedangkan ma’na yang diambil dalam hubungannya dengan shalat adalah sesuatu yang wajib ditutupi. Aurat yang wajib ditutup oleh laki-laki ketika hendak melakukan shalat ialah seluruh badan sampai diatas mata kakinya, sedangkan bagi wanita aurat yang harus ditutupinya adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Tidak boleh memakai pakaian yang sempit sehingga menampakkan lekukan-lekukan tubuh dan tidak boleh memakai pakaian yang transparan.&lt;br /&gt; Memasang Sutrah (Pembatas)&lt;br /&gt;Sebelum melaksanakan shalat hendaklah kita membatasi diri kita dengan pembatas (sutrah) atau dengan kata lain supaya kita berdiri menghadap ke dinding atau tiang atau apa saja yang dapat menjadi pembatas, seperti tongkat, kayu, ataupun garis. Rasulullah s.a.w bersabda:&lt;br /&gt;إذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ اِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا (رواه أبو داود وابن ماجه)&lt;br /&gt;Apabila salah seorang kamu hendak shalat, maka hendaklah ia bershalat menghadap sutrah (pembatas) dan hendaklah ia mendekat kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tata Cara Shalat&lt;br /&gt; Raka’at Pertama&lt;br /&gt;1. Berdiri tegak menghadap kiblat (ka’bah), pandangan ke tempat sujud tanpa berpaling. Bila tak kuasa berdiri maka boleh dengan duduk.&lt;br /&gt;2. Niat shalat dalam hati tidak dilafadzkan (diucapkan)&lt;br /&gt;3. Takbiratul-Ihram, atau takbir permulaan yang mengharamkan pelakunya beramal selain amalan shalat. Takbiratul Ihram dilaksanakan dengan mengucapkan الله اكـبر sambil mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua pundak.&lt;br /&gt;4. Bersedekap (meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung telapak tangan kiri di atas dada).&lt;br /&gt;Membaca do’a Iftitah (pembuka)&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَ بَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللّهُمَّ اَغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ باِلْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ (رواه البخاري ومسلم)&lt;br /&gt;( ALLAAHUMMA BAA’ID BAYNIY WA BAYNA KHATHAAYAAYA KAMA BAA’ADTA BAYNAL-MASYRIQI WAL-MAGHRIB, ALLAAHUMMA NAQQINIY MIN KHATHAA-YAAYA KAMĀ YUNAQQATS-TSAUBUL-ABYADHU MINAD-DANAS, ALLAAHUMMA AGHSILNIY MIN KHATHAAYAAYA BIL-MAA`I WATS-TSALJI WAL-BARADI )&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Ya Allah jauhkanlah antara diriku dan dosaku, sebagaimana engkau telah menjauhkan antara Timur dan Barat. Ya Allah bersihkanlah diriku dari dosa-dosa sebagaimana dibersihkannya kain putih dari kotoran. Ya Allah sucikanlah diriku dari dosa dan kesalahan dengan air, salju dan embun (HR. Bukhari-Muslim)&lt;br /&gt;5. Membaca ta’awwudz&lt;br /&gt;أعُوْذُ باِللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ&lt;br /&gt;(A’UDZU BILLAAHI MINASY-SYAITHAANIR-RAJIIM)&lt;br /&gt;Aku berlindung kepada Allah dari Syaitan yang terkutuk&lt;br /&gt;6. Membaca surat alfatihah&lt;br /&gt;بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيم ِ(3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيم َ(6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)&lt;br /&gt;(BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM. ALHAMDU LILLAAHI RABBIL- ‘ALAMIIN. ARRAHMAANIRRAHIIM. MAALIKI YAUMID-DIIN. IYYAAKA NA’BUDU WA IYAAKA NASTA’IIN. IHDINASH- SHIRAATHAL-MUSTAQIIM. SHIRATHAL-LADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM GHAIRIL-MAGHDHUUBI ‘ALAIHIM WA LADZH-DZHAALLIIN.)&lt;br /&gt;Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang  Segala puji bagi Allah, Rabb semesta Alam  Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang  Yang menguasai Hari Pembalasan  Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan  Tunjukilah kami jalan yang lurus  Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat &lt;br /&gt;7. Ucapkan amin أمِيْنsetelah Waladzdzhalliin. Amin artinya : “perkenankan-lah”&lt;br /&gt;8. Membaca beberapa ayat atau surat dalam al-Qur`an yang telah dihafal.&lt;br /&gt;9. Ruku’ yaitu mengangkat kedua tangan sejajar dengan bahu kemudian diturunkan sambil membungkukan tubuh dan meluruskan punggung sedangkan kedua tangan bertumpu di atas kedua lutut dengan jari-jari terbuka. Ketika ruku’ harus thuma’ninah (sempurna, tenang dan tidak terburu-buru). Dalam ruku’ membaca do’a :&lt;br /&gt;سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ&lt;br /&gt;(SUBHAANA RABBIYAL-‘AZHIIM) 3X&lt;br /&gt;Maha suci Rabbku yang Maha Agung&lt;br /&gt;Atau membaca; سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِيْ&lt;br /&gt;(SUBHAANAKA ALLAHUMMA RABBANAA WA BI-HAMDIKA ALLAHUMMAGHFIRLII)&lt;br /&gt;Maha suci Engkau Yaa Allah, yaa Rabb kami dan dengan memuji Engkau, Yaa Allah ampunilah dosaku&lt;br /&gt;10. Bangkit dari ruku’ dengan mengangkat kedua tangan sejajar dengan pundak lalu menurunkannyanya lurus sebagaimana permulaan shalat dan membaca سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ )Allah mendengar bagi siapa saja yang memuji-Nya). Kemudian dilanjutkan dengan membaca :&lt;br /&gt;Atau membacaرَبَّنَا وَ لَكَ الْحَمْدُ (Rabbanaa wa Lakal-hamdu)&lt;br /&gt;رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءُ اْلأَرْضِ&lt;br /&gt;وَمِلْءُ مَا شِئتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ&lt;br /&gt;(RABBANAA LAKAL-HAMDU MIL`US-SAMAAWAATI WA MIL`UL-ARDHI WA MIL`U MAA SYI`TA MIN SYAI`IN BA’DU)&lt;br /&gt;Artinya: Ya Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan Bumi serta sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki satelah itu.&lt;br /&gt;11. Sujud dengan Thuma`ninah. Rasulullah apabila hendak sujud beliau mengucapkan takbir tanpa mengangkat kedua tangan lalu turun dan meletakkan kedua tangannya itu ke tanah sebelum meletakkan kedua lututnya. Anggota tubuh yang harus menempel di tempat sujud adalah dua telapak tangan, dua lutut, jari-jari dua kaki, dan wajah. Nabi s.a.w ketika sujud meletakkan dua telapak tangannya, merapatkan jari-jarinya, menegakkan lengannya dan menjauhkannya dari lambung serta menghadapkannya ke arah kiblat.&lt;br /&gt;إِذَا سَجَدْتَ فَضَعْ كَفَّيْكَ وَارْفَعْ مِرْفَقَيْكَ (رواه مسلم وابو عوانة)&lt;br /&gt;Apabila kamu sujud, letakkanlah kedua telapak tanganmu dan angkatlah kedua siku lenganmu (HR. Muslim dan Abu ‘Awanah)&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda: “janganlah seseorang diantara kamu membentangkan kedua lengannya seperti anjing membentangkan kedua kaki depannya” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad)&lt;br /&gt;Do’a ketika sujud :&lt;br /&gt;سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى (SUBHAANA RABBIYAL-A’LAA) 3x&lt;br /&gt;Artinya : Maha suci Rabbku yang Maha Tinggi&lt;br /&gt;Atau membaca&lt;br /&gt;سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِيْ&lt;br /&gt;(SUBHAANAKA ALLAHUMMA RABBANAA WA BI-HAMDIKA ALLAHUMMAGHFIRLII)&lt;br /&gt;Artinya : Maha suci Engkau Yaa Allah, yaa Rabb kami dan dengan memuji Engkau, Yaa Allah ampunilah dosaku.&lt;br /&gt;Dilarang membaca Qur`an ketika sujud dan dianjurkan untuk mengagungkan dan meminta ampunan kepada Allah s.w.t.&lt;br /&gt;12. Bangkit dari sujud dengan bertakbir kemudian duduk di atas telapak kaki kiri dan menegakkan telapak kaki kanan, ujung-ujung jari kaki ditegakkan dan searah dengan kaki. Tangan diletakkan diatas paha dan ujung-ujung jari tangan sejajar dengan lutut.&lt;br /&gt;Dalam duduk diantara dua sujud itu baca do’a :&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَارْفَعْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَعَافِنِيْ وَارْزُقْنِيْ&lt;br /&gt;(ALLAAHUMMAGHFIRLII WAR-HAMNII WAJ-BURNII WAR-FA’NII WAH-DINII WA ‘AAFINII WAR-ZUQNII)&lt;br /&gt;Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, tutuplah ke’aibanku, angkatlah derajatku, berikanlah aku petunjuk, sehatkanlah daku dan berilah aku rizki (HR. Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah dan Hakim)&lt;br /&gt;13. Setelah itu sujud lagi yang kedua sambil bertakbir. Caranya sama dengan sujud yang pertama baik dalam bacaan maupun dalam gerakan.&lt;br /&gt; Raka’at Kedua&lt;br /&gt;14. Bangkit dari sujud dengan bertakbir, namun kedua tangan tidak diangkat seperti halnya pada permulaan qiyam (berdiri). Pada raka’at kedua dan seterusnya iftitah ditiadakan, sedangkan gerakan dan bacaannya sama seperti raka’at yang pertama.&lt;br /&gt;15. Baca ta’awwudz dan alfatihah kemudian baca surat atau ayat-ayat al-Qur`an yang mudah atau yang telah dihafal.&lt;br /&gt;16. Ruku’ sambil bertakbir kemudian baca do’a ruku sebagaimana pada raka’at pertama (lihat no. 9)&lt;br /&gt;17. Berdiri I’tidal membaca سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ kemudian membaca do’a I’tidal sebagaimana pada raka’at pertama (lihat no. 10)&lt;br /&gt;18. Sujud sambil takbir dengan tanpa mengangkat kedua tangan, dalam sujud itu baca سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى sebanyak 3X atau membaca:&lt;br /&gt;سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِيْ&lt;br /&gt;(SUBHAANAKA ALLAHUMMA RABBANAA WA BI-HAMDIKA ALLAHUMMAGHFIRLII)&lt;br /&gt;Artinya : Maha suci Engkau Yaa Allah, yaa Rabb kami dan dengan memuji Engkau, Yaa Allah ampunilah dosaku.&lt;br /&gt;19. Kemudian bangkit dari sujud dan bertakbir kemudian membaca do’a duduk diantara dua sujud sebagaimana pada raka’at pertama&lt;br /&gt;20. Kemudian takbir lalu sujud lagi dan baca do’a sujud.&lt;br /&gt;21. Bangkit dari sujud kedua sambil bertakbir dan duduk sebagaimana duduk diantara dua sujud (duduk iftirasy).&lt;br /&gt;Dari Ibnu Umar r.a, bahwasanya Rasulullah s.a.w adalah apabila beliau duduk untuk tasyahhud, beliau meletakkan tangannya yang kiri di atas lututnya yang kiri, dan menaruh tangannya yang kanan di atas lututnya yang kanan, dan beliau menggenggamkan tangannya (yang kanan) dengan genggaman 53 (lima puluh tiga), seraya berisyarat dengan jari telunjuknya, dalam riwayat lain; “dan beliau juga menggenggamkan semua jari-jarinya dan berisyarat dengan jari yang ada disamping ibu jari (telunjuk).” (HR. Muslim dan Abu ‘Awanah)&lt;br /&gt;Kemudian membaca do’a tasyahhud dan shalawat :&lt;br /&gt;التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ&lt;br /&gt;(ATTAHIYYAATU LIL-LAAHI WASH-SHALAWAATU WATH-THAYYIBAAT, AS-SALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN-NABIYYU WA RAHMATULLAAHI WA BARAKAATUH, AS-SALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAAHISH-SHAALIHIIN, ASYHADU AL-LAA ILAAHA ILAALLAHU WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUHU, ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA MUHAMMADIW WA ‘ALAA AALI MUHAMMADIN KAMAA SHALLAYTA ‘ALAA IBRAAHIIMA WA ‘ALAA AALI IBRAAHIIMA INNAKA HAMIIDUM-MAJIID. ALLAHUMMA BAARIK ‘ALAA MUHAMMADIW WA ‘ALAA AALI MUHAMMADIN KAMAA BAARAKTA ‘ALAA IBRAAHIIMA WA ‘ALAA AALI IBRAAHIIMA INNAKA HAMIIDUM-MAJIID.)&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Segala penghormatan, pengagungan dan pujian hanyalah milik Allah. Semoga keselamatan atasmu wahai Nabi, juga anugerah dan berkah-Nya. Semoga keselamatan atas kami dan atas segenap hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah Anugerahkanlah rahmat atas Muhammad s.a.w dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah menganugerahkan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah berkahilah Muhammad beserta keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Mulia.&lt;br /&gt; Raka’at yang ketiga&lt;br /&gt;Sama sebagaimana raka’at yang pertama dan kedua, hanya saja setelah bangkit dari duduk tasyahhud dianjurkan untuk mengangkat kedua tangan sebatas pundak atau sejajar dengan bahu sambil bertakbir, kemudian melanjutkan raka’at shalat yang tersisa. Ini bila shalat tersebut adalah shalat maghrib, Dzuhur ‘Ashar dan Isya namun shalat subuh selesai pada raka’at yang kedua.&lt;br /&gt;Pada raka’at ketiga setelah bangkit dari duduk tasyahhud lalu takbir, kemudian membaca alfatihah dan disunnahkan untuk membaca surat. Pada shalat maghrib raka’at ketiga adalah raka’at yang terakhir, kemudian mengucapkan salam bagi Shalat Maghrib.&lt;br /&gt; Raka’at keempat&lt;br /&gt;Setelah bangkit dari sujud dari raka’at yang ketiga, maka pelaksanaannya sama sebagaimana pada raka’at yang kedua, namun setelah bangkit dari sujud yang terakhir, duduklah dengan duduk tawarruk, yakni dengan menegakkan telapak kaki kanan dan meletakkan telapak kaki kiri di bawah tulang kering kaki kanan, sedangkan kedua tangan diletakkan di atas paha dengan cara sebagaimana pada tasyahhud awal. Pada tasyahhud akhir ini, do’a yang dibaca sama dengan do’a pada tasyahhud awal. Setelah selesai membaca do’a tasyahhud lalu membaca do’a :&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ&lt;br /&gt;(ALLAHUMMA INNII A’UUDZUBIKA MIN ‘ADZAABI JAHANNAMA WA MIN ‘ADZAABIL-QABRI WA MIN FITNATIL-MAHYAA WAL-MAMAATI WA MIN SYARRI FITNATIL-MASIIHID-DAJJAAL.)&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Ya Allah Aku berlindung kepada Engkau dari siksa Jahannam dan siksa kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian serta dari kejahatan fitnah Dajjal.&lt;br /&gt;kemudian diakhiri dengan mengucapkan salam السلام عليكم ورحمة الله dengan menengok kekanan lalu kekiri. Pada shalat Dzuhur ‘Ashar dan Isya, raka’at keempat adalah raka’at yang terakhir.&lt;br /&gt; Hal-hal yang dilarang dalam shalat&lt;br /&gt;1. Tergesa-gesa dalam shalat (tidak Thuma`ninah). Ketika ada salah seorang shalat dengan tergesa-gesa, Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya, barangsiapa mati dalam keadaan seperti ini, dia mati bukan dalam millah Muhammad. Dia mematuk dalam shalat seperti burung gagak mematuk darah. (HR. Ibnu Khuzaimah)&lt;br /&gt;2. Menoleh atau menengadahkan pandangannya ke langit.&lt;br /&gt;3. Banyak Bergerak-gerak dalam shalat kecuali bila ada keperluan yang dibolehkan oleh syari’at, seperti :&lt;br /&gt; Membunuh ular, kalajengking dan hewan yang membahayakan diri kita.&lt;br /&gt; Menolak orang atau sesuatu yang akan lewat dalam sutrah kita.&lt;br /&gt; Menggendong anak kecil.&lt;br /&gt; Menjawab salam dengan isyarat tangan.&lt;br /&gt; Bertepuk tangan bagi wanita, apabila Imam salah.&lt;br /&gt; Bergeser atau maju untuk mengisi kekosongan shaff.&lt;br /&gt; Imam menarik ma`mum apabila posisi ma`mum salah dan ma`mumnya harus menurutinya.&lt;br /&gt; Mundur untuk menemani seseorang yang menariknya untuk mendirikan shaff baru di belakang.&lt;br /&gt; Apabila di mulutnya ada sesuatu yang mengganggu ia boleh meludah ke sebelah kiri atau ke sapu tangannya.&lt;br /&gt; Maju untuk menggantikan Imam apabila Imam batal shalatnya.&lt;br /&gt;4. Menguap (diusahakan untuk menahannya)&lt;br /&gt;5. Membunyikan ruas tangan&lt;br /&gt;6. Menahan buang air besar atau kecil dan kentut.&lt;br /&gt;7. Bertolak pinggang.&lt;br /&gt;8. Melihat atau menggunakan pakaian yang mengganggu karena corak dan gambarnya.&lt;br /&gt;9. Isbal (memakai pakaian sampai menyentuh lantai)&lt;br /&gt;10. Shalat di depan makanan yang telah terhidang.&lt;br /&gt;11. Shalat di sa’at sedang mengantuk.&lt;br /&gt;12. Menetapkan tempat shalat yang khusus di masjid kecuali imam&lt;br /&gt; Hal-hal yang membatalkan shalat&lt;br /&gt;1. Tidak mengerjakan rukun-rukun dan syarat sahnya shalat.&lt;br /&gt;2. Makan dan minum.&lt;br /&gt;3. Berbicara dengan sengaja bukan untuk menegur imam yang salah.&lt;br /&gt;4. Menoleh/ memalingkan badan dari arah kiblat.&lt;br /&gt;5. Mengalami hadats kecil atau hadats besar.&lt;br /&gt;6. Tertawa-tawa sedikit atau banyak.&lt;br /&gt;7. Dilewati oleh perempuan baligh, keledai dan anjing hitam di dalam batas sutrahnya (HR. Ibnu Khuzaimah, Thabrani dan Hakim)&lt;br /&gt; Perbuatan yang diperkenankan ketika shalat&lt;br /&gt;1. Menangis, merintih, baik karena sangat takut kepada Allah atau karena sebab-sebab lain yang tak bisa ditahan, seperti karena sakit atau penderitaan yang tak terhingga.&lt;br /&gt;2. Membunuh binatang yang membahayakan diri kita, seperti ular dll.&lt;br /&gt;3. Berjalan sedikit karena ada keperluan, seperti memperbaiki shaff atau membukakan pintu dengan syarat tidak berpaling dari kiblat.&lt;br /&gt;4. Menggendong anak kecil di waktu shalat.&lt;br /&gt;5. Menjawab salam dengan isyarat.&lt;br /&gt;6. Bertasbih bagi laki-laki dan menepuk tangan bagi wanita untuk mengingatkan kesalahan imam.&lt;br /&gt;7. Menahan menguap dengan menutup mulut.&lt;br /&gt;8. Membaca surat dengan melihat al-Qur`an.&lt;br /&gt;9. Berludah kekiri (ke bawah telapak kaki kiri) atau ke sapu tangan.&lt;br /&gt; Hal-hal yang Diharuskan/dianjurkan dalam Shalat.&lt;br /&gt;1. Mendekatkan diri kepada pembatas (sutrah) ketika ada yang memaksa lewat. (diharuskan)&lt;br /&gt;2. Menolak atau mencegah agar orang tidak lewat di depan kita (di dalam sutrah). (diharuskan)&lt;br /&gt;3. Merapatkan shaff dan meluruskannya.(diharuskan)&lt;br /&gt;4. Berdo’a ketika membaca ayat-ayat adzab dan rahmat. (dianjurkan)&lt;br /&gt;5. Membaca ta’awudz dan meludah kekiri ketika shalat untuk menghilangkan keraguan. (dianjurkan). Rasul bersabda :&lt;br /&gt;قالَ عُثْمَانُ ابْنُ عَاصٍ، يَارَسُوْلَ اللهِ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ حَالَ بَيْنِيْ وَبَيْنَ صَلاَتِيْ وَقِرَاءَتِيْ يُلَبِّسُهَا عَلَيَّ، فَقَالَ رَسُوْلَ اللهِ ذِاكَ الشَّيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خِنْزِبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْـتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ، وِاتْفُلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلاَثًا، قَالَ فَفَعَلْتُ ذَالِكَ فَأَذْهَبَهُ اللهُ عَنِّيْ (رواه مسلم و أحمد)&lt;br /&gt;Utsman bin ‘Ash berkata kepada Nabi s.a.w, “Wahai Rasulullah, setan telah menggangguku ketika aku membaca bacaan dalam shalat, sehingga bacaanku menjadi kacau”. Rasulullah s.a.w bersabda: “itulah setan yang bernama Khinzib, jika kamu merasakan gangguannya, bacalah ta’awwudz dan meludahlah ke sebelah kirimu tiga kali”. Ia berkata: “saya-pun melakukan hal itu, kemudian Allah menghilangkan keraguan dari diriku.” (HR. Muslim &amp; Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kehabisan waktu Shalat&lt;br /&gt;Bagi orang yang lupa atau tertidur sehingga habis waktu shalat, maka shalatlah ketika ia teringat walaupun waktunya sudah lewat. Rasulullah menegaskan dalam haditsnya :&lt;br /&gt;عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَسِيَ صَلَاةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik r.a dari Nabi s.a.w ia bersabda: Barangsiapa yang lupa mengerjakan shalat maka shalatlah ketika teringat, tidak ada kafarat (tebusan) selain dengan melaksanakannya (dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku). (HR. Bukharie-Muslim)&lt;br /&gt; Shalat Berjama’ah&lt;br /&gt;Shalat berjama’ah adalah shalat yang dilaksanakan bersama-sama dan dipimpin oleh seorang imam dan dikuti oleh yang lainnya yang dinamakan ma’mum. Sebelum melaksanakan shalat berjama’ah dianjurkan untuk adzan dan iqamat. Orang yang menyerukan adzan disebut muadzin. Adzan biasanya dilaksanakan di masjid untuk memanggil orang-orang agar melaksanakan shalat secara berjama’ah di masjid. Sedangkan iqamat adalah ajakan buat berdiri shalat. Yang melaksanakan adzan atau Qamat siapa saja boleh baik imam ataupun ma’mum, kecuali wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lafadz adzan&lt;br /&gt;اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أكبَرُ 2×&lt;br /&gt;أَشْهَدُ أَنْ لاََّ إِلَهَ إِلاَّ الله 2×&lt;br /&gt;أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ 2×&lt;br /&gt;حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ 2×&lt;br /&gt;حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ 2×&lt;br /&gt;اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أكبَرُ لاَاِلَـهَ إِلاَّ اللهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adzan Subuh sama sebagaimana yang tersebut di atas. Adapun lafadz :&lt;br /&gt;الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّومِ 2×&lt;br /&gt;Shalat itu lebih baik daripada tidur 2X&lt;br /&gt;Adalah untuk adzan awal. Muhammad bin Ismail al-Kahlani dalam Kitabnya Subulussalam, menyebutkan bahwa tatswib diucapkan pada adzan awal, kira-kira 60 menit sebelum masuk waktu subuh, atau pada sa’at fajar kadzib. Adzan awal berfungsi untuk membangunkan orang agar shalat tahajjud ataupun sahur. Memang ada hadits yang menyebutkan bahwa tatswib itu pada waktu subuh secara umum, namun hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasaie mentaqyidnya (menjelaskan kekhususannya), berikut bunyinya :&lt;br /&gt;الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّومِ 2× فِيْ اْلأَذَانِ الأَوَّلِ مِنَ الصُّـبْحِ (رواه ابن خزيمة)&lt;br /&gt;Ashshalatu Khairumminannaum 2X adalah di dalam adzan awal dari subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lafadz Iqamat&lt;br /&gt;اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أكبَرُ&lt;br /&gt;أَشْهَدُ أَنْ لاََّ إِلَهَ إِلاَّ الله&lt;br /&gt;أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ&lt;br /&gt;حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ&lt;br /&gt;حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ&lt;br /&gt;قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ 2×&lt;br /&gt;اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أكبَرُ لاَاِلَـهَ إِلاَّ اللهُ&lt;br /&gt;Keterangan&lt;br /&gt; Disunnahkan bagi orang yang mendengar adzan untuk menjawabnya dengan lafadz yang sama seperti yang diucapkan oleh Muadzin, kecuali pada lafadz حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ dan حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ maka ketika mendengar lafadz itu ucapkanlah :&lt;br /&gt;لاَحَوْلَ وَلاَ قُـوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ&lt;br /&gt;Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan kehendak Allah&lt;br /&gt; Disunnahkan sesudah adzan berdo’a :&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدَنِ الْوَسِيْلَةَ وَ الْفَضِيْلَةَ وَابْعَـثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدَنِ الَّذِيْ وَعَدْتَهُ&lt;br /&gt;(ALLAHUMMA RABBA HAADZIHID-DA’WATIT-TAAMMAH WASH-SHALAATIL-QAA`IMAH, AATI MUHAMMADANIL-WASIILATA WAL-FADHIILATA WAB’ATSHU MAQAAMAM-MAHMUUDANIL-LADZI WA’ADTAH)&lt;br /&gt;Artinya: Ya Allah, Rabb yang mempunyai panggilan yang sempurna ini dan shalat yang didirikan ini, berikanlah kepada Muhammad derajat yang tinggi dan pangkat yang mulia dan bangkitkanlah Muhammad di tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya (HR. Bukharie dan Ashhabus- Sunan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adab-Adab Shalat Berjama’ah&lt;br /&gt; Ma’mum harus mengikuti Imam dalam segala halnya dan tidak boleh mendahuluinya.&lt;br /&gt; Imam haruslah orang yang lebih pandai dari mereka tentang Islam dan lebih fasih dalam membaca ayat-ayat al-Qur`an.&lt;br /&gt; Imam hendaklah merapikan shaff jama’ahnya. Apabila makmumnya seorang maka letaknya di sebelah kanan Imam dengan mundur sedikit ke belakang, namun bila ma’mumnya lebih dari seorang maka letaknya dibelakang imam. Hendaklah mereka merapatkan shaff di belakang Imam.&lt;br /&gt; Dalam pengaturan shaff, orang-orang tua dan orang-orang yang faham Islam shaffnya di depan dan didahulukan dibanding anak-anak, kemudian baru wanita.&lt;br /&gt; Pada shalat Maghrib, Subuh, Isya, Jum’at, Taraweh &amp;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1613232504444729082-8523792098464071195?l=alfajr-pmtt.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/feeds/8523792098464071195/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1613232504444729082&amp;postID=8523792098464071195' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default/8523792098464071195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1613232504444729082/posts/default/8523792098464071195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alfajr-pmtt.blogspot.com/2008/07/definisi-shalat.html' title='Definisi Shalat'/><author><name>Achmad Fajar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09208296357391645542</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_bIfRFYvumkk/SG-rBdLxhOI/AAAAAAAAABc/6omfbO1oxUY/S220/1_657328070l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
